Sisa Hidup Alin

“Mas!! Mau kemana?” Seorang gadis berdiri di sudut lorong menjulurkan tangan berusaha meraih seorang laki-laki yang berjarak lima langkah dihadapannya.

Laki-laki itu menoleh kebelakang menatap gadis itu sesaat dengan ekspresi datar dan melanjutkan langkahnya berjalan ke depan dan menghampiri dua pasangan paruh baya. Gadis itu tak dapat melihat jelas wajah pasangan paruh baya itu karna ada cahaya yang cukup menyilaukan disana. Tanpa ragu lelaki itu menggandeng keduanya dan pergi tanpa menoleh kembali ke arah gadis itu. Gadis itu lalu menangis terisak-isak dengan kepergian lelaki itu.

“Neng… Udah siang.”

Alin terbangun dari mimpinya. Matanya berair dan pipinya pun basah. Ia benar-benar menangis terbawa mimpinya.

Mimpi apa itu tadi.. Ya tuhan pertanda apa itu. 

Dirinya bergumam dalam hati.

“Neng, sudah bangun belum? Cepetan nanti telat ke kantor.” Ibunya kembali mengetuk pintu kamar dengan tak sabar.

“Iya bu lagi beres-beres.” Ujar Alin berbohong.

Ia mengusap pipinya yang basah karna air matanya dan segera bangkit dari tempat tidurnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor.

Waktu menunjukkan pukul 06.15 am. Alin sudah berada di dalam bus. Masih pagi namun bus sudah ramai dengan para pekerja kantoran. Bangku pun sudah terisi penuh. Tak ada tempat kosong untuknya. Ia pun memilih untuk berdiri di depan dekat pintu pembatas antara driver dan penumpang.

Bus ini ramai namun tidak dengan hati dan pikiranku. Aku begitu kosong tanpamu mas.. Walaupun hanya sebuah mimpi, tapi aku begitu takut akan kehilanganmu.

Alin melamun di tengah keramaian bus pagi itu. Lamunannya terhenti saat handphone nya berdering.

Nama pamela yang tertera di layar handphone nya.

Oh ya hari ini aku janji sarapan bareng dengannya.

Lalu Alin mengangkat teleponnya.

“Al udah dimana? Aku nunggu di sevel ya. Mau sarapan apa? Biar sekalian beli nih.”

“Apa aja deh.”

“Oke. Masih lama?”

“Dikit lagi nyampe p.”

“Oke hati-hati.”

Percakapan berakhir Alin pun menutup telponnya.

Alin adalah seorang auditor eksternal sedangkan pamela adalah seorang akuntan di perusahaan swasta. Kebetulan perusahaan yang diaudit oleh Alin adalah perusahaan dimana Pamela bekerja. Sehingga mereka dapat saling bertemu dan makan bersama untuk sekedar mengobrol saja. Walaupun bersahabat tetapi dalam hal pekerjaan tetaplah harus profesional. Mereka memisahkan keduanya.

Tak lama Alin pun sampai di tempat dimana ia janjian dengan Pamela. Mereka pun mengobrol menghabiskan waktu sebelum waktu bekerja mulai.

“Eh mas Adri ko kemaren agak beda ya..” Ucap Pamela.

“Beda gimana?”

“Sikap nya makin dingin banget. Ya aku sih ga tau ya apa perasaanku aja. Tapi kaya dia lagi punya masalah. Bukannya biasanya kamu pulang dianter dia juga.”

“Iya Mas Adri beberapa hari ini pulang kerja langsung ke rumah sakit. Ibunya dirawat inap. Jadi dia sibuk urus ibunya. Lagipula bapaknya udah tua juga.”

“Kamu ga jengukin?” Tanya Pamela kepada Alin.

“Hmmm.. Pengen sih tapi mas Adri bilang belum saatnya aku ketemu ibunya.” Alin menjawab dengan wajahnya yang terlihat kecewa.

“Ko gitu sih. Katanya serius tapi masa belum saatnya.” Pamela sedikit kesal.

“Eh udah mau jam 8. Kamu masuk sana.”

“Ah tenang aja aku udah absen ini.” Ujar Pamela santai.

Pamela pun bangkit dari kursinya. Untuk masuk ke gedung duluan.

“Sampe ketemu nanti ya.” Ujar Pamela kepada Alin.

“Oke.. Data jangan lama-lama ya kasihnya.”

“Hahaha iya maaf banyak banget yang urgent sih jadi ga sempet nyariin.” Pamela menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Saat berbalik untuk menuju gedung kantor pamela melihat Mas Adri yang baru saja sampai dan sedang membeli sarapan.

“Al.. Itu Mas Adri. Kamu samperin sana. Aku duluan ya.”

“Oke.” Jawab Alin sambil menoleh ke arah mas Adri.

Pamela pun meninggalkan Alin sendiri.

Alin dan Mas Adri kebetulan satu tim audit yang mengaudit perusahaan tempat Pamela bekerja.

“Mas Adri…” Alin memanggil mas Adri dari tempatnya duduk.

Mas Adri menoleh dan menghampiri Alin.

“Kamu udah sarapan?” Tanya Mas Adri dengan suara lembutnya yang khas.

“Udah nih mas. Kamu mau makan dulu kan.. Sini duduk aku temenin.”

Mas Adri tersenyum dan duduk dihadapan Alin untuk sarapan.

“Mas.. Semalem aku mimpi tentang kamu.” Alin berkata.

“Mimpi ga usah terlalu dipikirin.” Mas Adri menjawab namun wajahnua sedikit berubah terlihat agak dingin.

Mas Adri kenapa ngga tanya ya.. Dia seperti sudah tau bahwa aku mimpi buruk tentang hubungan kita. Wajahnya juga seperti ada yang disembunyikan dariku.

Alin bergumam dan pikirannya menebak-nebak.

“Mas, gimana ibu kamu udah sehat?”

“Belum sih tapi sudah mendingan. Doakan ya.”

“Iya mas aku doakan setiap saat. Aku juga kan pengen ketemu Ibu kamu. Sampaikan salamku untuknya ya.” Ujar Alin sambil tersenyum.

Wajah Mas Adri seketika berubah mood. Ia tak menghabiskan sarapannya.

“Ayo kita masuk. Pekerjaan sudah menunggu.” Mas Adri bangkit dari tempat duduknya. Ia langsung pergi tanpa menunggu persetujuan karla.

Alin terdiam sejenak. Ia merasa hubungannya seperti sedang diujung tanduk.

Apa Mas Adri bosan denganku. Apa aku terlalu memaksakan sesuatu kepadanya…

Matanya sedikit barkaca-kaca. Alin yang sungguh perasa. Namun ia menahan air matanya. Karna ia takut itu hanya pikiran buruknya saja. Lalu ia pun mengusap matanya yg sudah berair dan segera berdiri meninggalkan tempat duduknya untuk menuju gedung kantor.

***

“Pamela, itu si auditor kamu punya data blm kasih hah..” Bu Lin manager accounting berteriak kepada pamela dengan suara dan logat khas ala chinese.

“Ah iya bu ini aku lagi cariin bu banyak yang minta data bu.”

“Kamu mau bayar lembur auditor hah. Prioritasinlah.”

“Iya bu hari ini selsai ko.” Pamela panik namun tak dapat dipungkiri wajahnya terlihat kesal.

Ia pun menelpon ke ext ruangan audit. Untuk menanyakan kembali data yg kurang. Lalu segela melengkapi datanya untuk segera diberikan kepada auditor.

Pamela pergi ke lantai 2 ruangan auditor bekerja untuk menyerahkan data kekurangan yang dibutuhkan oleh auditor. Ruangannya berada diujung dan sepi karna ruangan di lantai 2 adalah ruangan khusus untuk meeting. Jarang ada yg pergi kesana karna hanya digunakan untuk tamu-tamu perusahaan. Ketika sampai di depan ruangan audit pamela terkejut dengan perbincangan Alin dan mas Adri. Perbincangan mereka mengenai hubungan mereka. Tidak biasanya mereka mencampurkan urusan pribadi di kantor. Walaupun mereka hanya berdua saja di ruangan. Entah kemana tim audit lainnya. Pamela tak berani masuk. Ia terdiam diluar. Tak sengaja Alin menoleh kearah jendela dan melihat pamela yang berdiri mematung. Mereka pun langsung terdiam. Dan Pamela dengan wajah yang merasa tidak enak ia mengetuk pintu yang sedikit terbuka lalu menyerahkan berkas yang dibutuhkan auditor.

“Ini data-data yang kurang. Kalo ada butuh apa-apa lagi telpon ke ext aku aja.” Pamela segera meninggalkan mereka berdua.

Setelah pamela pergi Alin dan Mas Adri terdiam.

“Mas sebaiknya kita tidak membahas masalah pribadi disini.” Kata Alin membuka kembali pembicaraan dengan mata yang sedikit berlinang dan hidung yg sedikit basah.

***

Hari-hari berlalu. Kini tinggal menunggu hasil terbitan laporan audit.

“Al kalian ada apa sih. Ko waktu itu kalian seperti mau putus? Aku ngga sengaja denger percakapan kalian waktu itu” Pamela bertanya pada Alin sambil menikmati makan siang diluar.

“Aku ngga ngerti P sama Mas Adri dia seperti ngejauhin. Dan setiap aku nanya kabar orangtuanya dia marah dan diam.”

“Ko gitu ya. Eh besok audit terakhir ya. Kita jarang ketemu lagi dong.”

“Haha iya nih. Ya udh sabtu atau minggu kita rencanain lah setidaknya ketemu.”

***

Keesokan harinya, adalah hari terakhir auditor di kantor pamela. Seusai jam kerja pamela yang janjian dengan Alin untuk pergi bersama tiba-tiba batal. Alin membatalkannya tanpa menjelaskan apapun. Entah apa yang terjadi padanya namun pamela melihat wajah Alin dan Mas Adri yang sangat serius dan pergi bersama. Alin dan mas Adri pergi ke suatu tempat. Ada suatu hal yang akan mereka bicarakan.

“Mas ada apa sih ko dadakan banget? Muka kamu juga serius banget.” Alin membuka pembicaraan.

“Al, maafin aku ya.”

“Ada apa sih mas?”

“Sebaiknya kita sudahi hubungan kita saja. Aku ga mau nantinya kamu tergantungkan.”

“Maksudnya?” Alin mulai berkaca-kaca.

“Ibuku sakit. Dan aku harus menikah dengan calon dari ibuku yang sama denganku. Sedangkan kita berbeda lin. Aku ngga mau menyakiti kamu dan ibuku. Tapi aku harus memutuskan.”

“Apa itu pertanda dari mimpiku.” Air mata Alin mulai jatuh.

“Saat ini kita bersahabat saja. Kalau seandainya kita memang berjodoh pasti ada jalan lain lin. Kamu jangan nangis ya. Aku makin merasa bersalah.” Mas Adri menunjukkan wajah sedihnya.

“Mas ibumu tidak setuju karna kita beda. Kau kan tau kita berbeda lalu kenapa kau membiarkan aku berlarut dan makin menyukaimu.”

“Aku yang salah Al. Maafin aku. Aku yang mulai duluan.”

“Baiklah jika itu keputusan yang terbaik untukmu dan ibumu. Aku terima mas aku ikhlas. Dan bagaimana dengan kabar ibumu? Aku selalu bertanya tapi kau tidak pernah menjawab dengan jelas. Apa ibumu begitu tidak sukanya denganku yang berbeda darimu jika mengetahui hubungan kita.” Alin berbicara sambil terisak-isak.

“Aku tidak ingin membahas ibuku karna aku merasa bersalah dengan ibuku jika aku dekat denganmu. Itulah sebabnya aku tidak ingin membahasnya. Dan ibuku sudah sehat. Kau tak perlu khawatir lagi.”

“Jadi, ini akhirnya. Semoga kamu bahagia ya mas. Aku ikhlas.”

“Al jangan nangis lagi. Aku akan selalu mendoakanmu. Dan satu lagi yang belum kuberitahukan padamu. Aku sudah mengajukan resign dan akan segera pindah. Maaf aku baru memberitahumu hal ini.”

Alin terkejut dan ia terdiam.

“Mas kalau begitu tidak perlu dibicarakan lagi. Sebaiknya aku pulang. Sudah malam.”

“Al kita masih berteman kan..”

Alin pergi meninggalkan Mas Adri tanpa menoleh kembali.

***

Al maaf atas kesalahanku. Kuharap kita tidak bermusuhan. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Ini hari terakhirku di kantor. Semoga kau sehat dan bahagia selalu. 

Pesan singkat dari Mas Adri kepada Alin. Alin menunjukkan pesan itu kepada Pamela sahabatnya.

“Terus kamu balas apa? Duh pantes beberapa hari ini kamu susah banget dihubungin.”Pamela menunjukkan wajah kecewa nya.

” Aku bilang, aku tidak marah sedikitpun. Jika itu yang terbaik untukmu dan keluarga aku akan mendoakanmu.”

“Sabar ya Al. Semoga dia jodohmu lah. Kalo sudah jodoh pasti ada jalan.”

“Iya P. Hubunganku berakhir di hari terakhir audit di kantormu.”

Pamela hanya bisa menepuk pundak sahabatnya memberikan rasa kepeduliannya.

“Laporan Audit terbit bersamaan dengan berakhirnya hubunganku dengan Mas Adri.” Alin berbicara pada pamela dengan matanya yang sudah berlinang.

Waktu berlalu.. Alin dan Mas Adri menjalani kehidupannya masing-masing.

Pesan singkat mendarat di handphone Alin.

Kamu apa kabar? Datanglah ke acara tunanganku esok sabtu di rumahku. Maaf memberitahukan ini kepadamu. Kudoakan untukmu selalu. -Adri-

Air mata tumpah dari mata Alin. Tak kuasa ia menahan kesedihannya.

Inilah akhirnya. Kami memang tidak berjodoh..

*******

23 thoughts on “Sisa Hidup Alin

  1. salut, kirain ini review tadinya , ternyata ciptaan sendiri,,
    ya kalau ga jodoh bgtulah ya kak..

    Sulitnya jatuh cinta bgtulah, baiknya emang bangun cinta sih #halah

  2. Aku bisa merasakan bagaimana merasa berdosa dan bersalahnya laki laki itu…. hiks… dan akan tetap merasa berasalah kalau wanita itu belum bahagia 😭😭😭😭

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *