Short Story / Stories

Bidy Si Penakut – Cerpen

Suasananya gelap sekali. Ada sesosok tangan yang ingin mencengkram tubuh ini. Apa itu? Bidy sangat ketakutan.

     “Toloong….!!!” Bidy berteriak dan langsung terbangun.

     “Untung saja hanya mimpi.” Katanya sambil mengusap keringatnya.

     “Ada apa teriak ibunya dari dapur.

     “Tidak apa-apa bu.”

     Bidy langsung keluar dari kamarnya menuju ke kamar mandi. Iia melihat sekeliling kamar mandi. “Semoga tidak ada hantu.” Pikirnya. Ia mandi dengan terburu-buru. Kemudian setelah ia mandi ia segera turun ke bawah untuk sarapan pagi dan berangkat ke sekolah. Ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki karena sekolahnya tidak jauh dari rumahnya. Ketika pelajaran dimulai, gurunya menyuruh Bidy untuk mengambil patung yang ada di ruang biologi untuk dibawa ke kelasnya. Bidy langsung diam. Ia sangat takut jika disuruh mengambil patung yang ada di ruang biologi karena patungnya seram. Karena malu jika ia takut dengan patung itu, akhirnya ia memberanikan  diri untuk mengambil patung itu sendirian. Bidy berjalan sambil menunduk. Ia sangat ketakutan. Tiba-tiba ia seperti mendengar suara kaki yang sedang melangkah. Ia tidak berani menoleh karena ia takut jika melihat sesosok yang menyeramkan. Setelah sampai di ruang biologi ia langsung menutup pintu ruangan itu dan bersembunyi di samping lemari. Suara langkah kaki itu makkin kecil tiba-tiba terdengar suara sseorang membuka pintu. Bidy langsung ketakutan dan ia langsung menutup wajah dengan tangannya.

     “Bidy kamu ngapain?” Tanya Bona.

Bidy langsung membuka matanya dilihatnya Bona temannya berdiri memandangnya heran.

     “Hhh…, aku kira hantu.” Ujar Bidy dengan suara pelan.

Ia sangat malu karena karena ia kira ada hantu yang menakutinya.

     “Kamu ngapain disini?” ujar Bona.

     “Enggak siapa yang takut, aku Cuma kaget.” Ujar Bidy dengan sangat sok berani.

     “Ah bohong, tenang saja aku gak akan bilang ke yang lain kok.” Kata Bona.

Bidy diam.

     “Lebih baik kita bawa saja patung ini ke pak guru.” Jelasnya singkat.

     Kemudian mereka berdua mengangkat patung menuju ke kelas. Bidy adalah anak yang sangat penakut. Ia tidak takut dengan serangga, tetapi ia paling takut dengan dengan hantu. Setiap pergi ke kamar mandi ia selalu melihat sekeliling dalam kamar mandi. Ia takut jika ada hantu yang mengagetkannya dari langit-langit kamar mandi. Kadang ia juga suka takut ketika membuka lemari pakaiannya. Karena ia takut ada hantu di dalam lemarinya. Akhirnya ibunya membelikannya laci besar untuk menyimpan pakaiannya. Ketika berjalan menuju sekolah ia juga selalu terburu-buru karena takut ada hantu yang mengikutinya dari belakang. Kalau tidur pun ia tidak mau menghadap ke jendela. Karena ia takut ada hantu yang mengintip atau masuk dari jendela kamarnya. Bahkan ketika tengah malam terbangun untuk untuk ke kamar mandi ia selalu membangunkan kakaknya terlebih dahulu,meminta untuk menemaninya ke kamar mandi.

     Akhirnya bel berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran selesai dan semua murid-murid pun pulang ke rumah masing-masing, kecuali Bidy. Ia dipanggil gurunya pak Hadri untuk menghadap ke ruang guru. Ia dinasehati gurunya , karena nilai-nilainya kurang bagus.

     “Kenapa nilaimu jelek terus Bidy? Kamu harus lebih rajin belajar, ya!” kata pak guru.

     “Baik pak, saya akan berusahalebih giat belajar supaya nilai saya lebih baik.” Ujarnya.

     “Ya sudah kamu boleh pulang sekarang dan jangan lupa kerjakan PR mu.” Ujar pak guru.

     “Pak, bapak mau pulang jam berapa?” Tanya Bidy.

     “Bapakpulang jam 5 nanti. Memangnya kenapa?” Tanya pak guru.

     “Tidak apa-apa.” Ujar Bidy.

     Bidy berjalan dengan terburu-buru. Ia takut untuk turun ke bawah sendirian. Akhirnya ia memberanikan diri untuk turun ke bawah sendirian. Dan ia berjalan sangat cepat. Setelah keluar dari dalam gedung sekolah dan berjalan untuk pulang ke rumah, temannya menyapa untuk ikut pulang bersamanya dengan mobil. Bidy pun mau karena takut jika harus pulang sendiriian. Bidy diantarkan sampai depan rumahnya. Sesampai di rumah ia langsung mengganti bajunya, mencuci tangan dan kaki dan memakan kue yang telah disediakan oleh ibunya di meja. Lalu ibunya datang dan duduk di sebelah Bidy.

     “Bidy kenapa kamu masih harus diantar kakak ke kamar mandi? Kamu kan sudah besar, umurmu sudah 12 tahun dan kamu bukan anak umur tujuh tahun lagi. Umur 12 tahun seharusnya kamu sudah berani ke kamar mandi sendiri. Kamu harus belajar untuk tidak takut lagi.” Ujar ibunya menasehati Bidy. Namun Bidy hanya diam saja.

     Keesokan harinya, seperti biasa Bidy selalu  terburu-buru. Sesampainya di kelas, ia langsung duduk sambil menunggu bel masuk berbunyi. Sementara temannya berbisik-bisik membahas tentang Bidy. Mereka mengetahui bahwa Bidy sangat takut dengan hantu. Mereka berencana menakut-nakuti Bidy setelah pulang sekolah.

     “Bidy nanti pulang sekolah kamu datang ke gudang ya? Kita disuruh pak guru membersihkan gudang.” Ujar Bona.

Bidy mengangguk. Ia langsung percaya pada temannya padahal teman-temannya bermaksud untuk menakut-nakuti Bidy. Ketika istirahat di kelas, teman-temannya ramai membicarakan isu hantu sekolah, mereka membicarakan hantu-hantu yang ada di sekolah. Salah satunya yang pernah dilihat anak-anak adalah di dapur, di guddang, di ruang biologi, dii ruang makan, di halaman belakang dan di ruang ganti baju untuk olahraga. Sementara itu Bidy ketakutan sambil mendengarkan anak-ank menceritakan tentang hantu sekolah. Tetapi ia merasa tenang karena ia membersihkan gudang beramai-ramai dengan teman-temannya.setelah jam pelajaran selesai semua teman-temannya turun, tetapi Bidy masih membereskan buku. Bidy sangat terburu-buru karena takut jika sendirian di kelas.ketika turun ke bawahia menuju ke gudang tetapi teman-temannya tidak ada. Akhirnya ia pulang karena ia tidak mau membersihkan gudang sendirian.

     Keesokan paginya, seperti biasa Bidy terburu-buru dan langsung berangkat ke sekolah. Sesampainy di kelas, ia tidak melihat satu anak pun ada di dalam kelas. Ia terkejut kenapa belum ada satu anak pun ada di dalam kelas.padahal anak-anak kelas lain sudah banyak yang datang. Akhirnya ia masuk ke dalam kelas dan membuka pintu kelasnya agar tidak sepi.karena di luar ramai dan banyak anak-anak. Tetapi ketika Bidy sedang menunggu di dalam kelas, pintu teertutup sendiri dengan sangat kencang.kemudian ia membuka pintunya lagi karena ia pikir itu hanya angin. Padahal pintu itu tertutup karena salah satu temannya yang menutup pintu dari luar supaya Bidy ketakutan. Sayangnya, ketika mereka ingin melanjutkan rencana untuk menakuti Bidy lagi, rencana itu terpaksa terhenti karena bel masuk yang berbunyi. Akhirnya mereka masuk ke kelas dengan beramai-ramai. Dan Bidy berpikir bahwa hal-hal aneh yang dialaminya mungkin adalah teman-temannya yang ingin menakut-nakuti dia. Dan ia bertekad untuk mencoba menjadi anak yang pemberani. Dan ketika teman-temannya menakut-nakuti ia lagi ia sudah tidak takut lagi.dan nilai-nilainya pun meningkat karena ia sudah tidak memikirkan hal-hal yang menakutkan lagi.

     Hari ini ia berangkat seperti biasa, dan satu kejutan khusus, ia berjalan dengan santai tanpa merasa ketakutan atau merasa ada yang mengikutinya. Sebenarnya kejadian jahil teman-temannya itu membawa hikmah dan manfaat bagi dirinya sendiri.tekadnya ternyata terwujud untuk belajar menjadi seseorang yang pemberani. Ketika pelajaran dimulaipak Didi wali kelasnya, mengumumkan sesuatu. Ternyata sekolah akan mengadakan acara berkemah di Bogor. Semua murid gembira sekali mendengar pengumuman itu. Mereka berteriak kegirangan sembari meloncat-loncat,juga ada yang memukul-mukul meja. Pak Didi sampai pusing menenangkan murid-muridnya yang berjumlah empat puluh lebih itu. Sedangkan pak Didi bukanlah guru yang galak dan pemarah terhadap murid-muridnya. Berbeda dengan anak-anak lain, Bidy terlihat kebingungan dan gelisah. Ia tidak tahu apakah ibunya mengizinkannyapergi atau tidak. Kalau ayahnya sudah pasti menyuruhnya mengambil keputusan sendiri. Tetapi ibunya, ibunya adalah seseorang yang mudah khawatir, mudah panik dan mudah takut pada suatu hal. Mungkin sifat ibunya menurun sedikit pada anaknya yang juga penakut.

     Keesokan harinya Bidy berbicara pada ibunya. Spontan ibunya melarangnya untuk tidak ikut. Sedangkan ayahnya, sedang duduk di meja makan menunggu siapnya makanan sambil membaca Koran, berkata sangat bijak kepada ibunya.

     “Biarlah Bidy mengambil keputusannya sendiri, bu. Bidy sudah 12 tahun. Ia perlu belajar mandiri, toh banyak guru yang ikut kan?”

Ayahnya memandangnya. Bidy mengangguk. Ibunya berpikir sejenak. Mungkin ada benarnya juga. Bagaimana kata tetangga nanti kalau anaknya tidak bisa mandiri karena ada di rumah sedangkan teman-temannya bersenang-senang di perkemahan. Dengan perasaan tidak ikhlas, setuju-tidak setuju , sedikit khawatir, ibunya mengucapkan kata “ya.” Sebelum Bidy loncat kegirangan ibunya langsung berkata,

     “tapi dengan beberapa syarat.”

     “Syarat apa?” Tanya Bidy bingung.

     “Selama kamu disana kamu harus telepon minimal  3 kali sehari, jangan jalan sendirian, jangan main yang membahayakan diri kamu.”

     “iya, bu!” katanya sedikit kesal.

Ibunya terdiam.

     “ya sudahlah.” Jawab ibunya pasrah.

     Karena waktunya tinggal 3 hari lagi Bidy mulai bersiap-siap membawa barang-barang yang ia butuhkan. Setelah hari itu tiba, Bidy suddah siap dengan membawa tasnya yang berat.ibunya hanya memasang muka sedih karena belum ikhlas melepas kepergian anaknya. Perasaan kekhawatirannya begitu keterlaluan. Busnya akan berangkat setengah jam lagi. Setelah berpamit kepada kedua orang tuanya, iia berjalan kaki menuju sekolahnya. Sesampainya disana banyak anak-anak yang sudah tiba di tempat bahkan menampati tempat duduknya masing-masing di bus. Ia terkejut karena ternyata ia duduk dengan Bona temannya yang mennyebalkan. Dengan perasaan pasrah ia duduk. Bona tersenyum-senyum sendiri melihat keadaan Bidy yang banyak membawa barang-barang. Bidy hanya memalingkan muka malas.

     Bogor dekat dengan Jakarta, jadi hanya sekita se-jam perjalanan kesana. Sesampainya disana, murid-murid turun dan berjalan menuju perkemahan.di tempat kemah mereka mendirikan tenda bersama kelompoknya masing-masing. Kebetulan Bidy sekelompok, lebih tepatnya satu tenda bersama Bona. Menyebalkan sekali! Pikirnya.

     Besoknya, ia dan kelompoknya bertugas mengambil air dari mata air pegununngan yang tidak jauh dari tempat perkemahan. Tetapi Bidy merasa barangnya ada yang tertinggal.

     “Teman-teman, handphone ku ketinggalan di atas batu tadi. Aku ambil dulu ya!”

     “Ya udah. Kita tunggu disini ya!”

Bidy mengangguk. Bidy lalu berbalik untuk mengambil handphone-nya. Sampai disana ternyata handphone-nya masih ada. Ia mengambilnya dan berballik untuk kembali bergabung dengan temannya. Saat ia berbalik, ia terkejut ada anak perempuan berdiri di hadapannya.

     “Hai!” anak perempuan itu menyapanya.

     “Kamu siapa?” tanyanya tenang.

     “Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja.

     “Memangnya kenapa?” Tanya Bidy.

Tetapi anak itu hanya diam saja. Sementara itu temannya yang menunggu dia mengambil hanphone merasa cemas karena Bidy sejak tadi belum kembali. Akhirnya temannya, Bona menyusulnya dan ketika sampai, ia melihat ada anak pperempuan di hadapan Bidy. Tetapi ketika Bona memanggil Bidy, anak perempuan itu langsung menghilang. Kemudian mereka kembali ke tempat perkemahan.dan setelah melihat kejadian itu, di tempat perkemahan pun Bidy serin berbicara sendiri. Akhirnya tiba saatnya semua murid-murid untuk pulang. Selama di perjalanan Bona hanya diam saja. Tampaknya ia masih bingung tentang apa yang ia lihat waktu itu dan keanehan yang terjadi pada Bidy. Dalam hatinya ia bertanya apakah Bidy memiliki pengelihatan khusus. Tapi, tapi bukankah dia dulu adalah orang  yang penakut? Bona masih memikirkannya. Sampai di rumah pun ia masih memikirkan hal itu. Ia juga berpikir jangan-jangan anak itu selalu menjaga Bidy dan sewaktu mereka menjahili Bidy, meereka selalu gagal. Bona menjadi ketakutan sendiri.

 

 

Oleh: Puspa Dwi Marlita Harahap

cerita ini ditulis saat duduk di bangku sekolah untuk keperluan tugas Bahasa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *