Cerita / Cerita Rakyat Indonesia

Cerita Rakyat Indonesia – Situ Bagendit

13 km sebelah utara Kota Garut terdapat sebuah situ (Telaga = Danau Kecil) bernama Situ Bagendit. Terkenal sebagai tempat rekreasi yang menyenangkan.

Beribu-ribu tahun yang lalu sebelum Situ Bagendit menjadi “Situ” ia merupakan pedataran desa yang sangat subur. Hiduplah seorang janda kaya bernama Nyi Endit. Ia bukanlah seorang ratu, namun ia dianggap paling berkuasa dan ditakuti di desa tersebut. Kekayaannya yang berlimpah ia gunakan sebagai modal untuk dipinjamkan kepada penduduk dengan bunga yang tinggi. Untuk keamanan pribadinya Nyi Endit mempunyai beberapa orang jagoan sebagai tukang kepruk. Jagoan ini selain bertindak sebagai pengawal pribadi Nyi Endit juga biasa bertugas “menagih paksa” mereka yang meminjam uangnya dan pada waktunya tak mampu membayar hutangnya.

                “Heh! Kapan kamu mau membayar hutangmu.” Salah seorang jagoan Nyi Endit menagih warga yang meminjam uang.

                “Deh ilah bagaimana ya… Nyari duit lagi seret banget nih.. Untuk makan hari ini saja belum ada.” Kata warga yang meminjam uang tersebut.

                “Kau jangan berkata begitu… Kamu mestinya harus bersyukur bisa dipinjami uang oleh Nyi Endit, tapi kamu juga harus  mengembalikan uang itu!!”

                “Habis gak punya uang mau bayar pake apa.”

                “Gak punya uang tapi kamu kan punya kambing. Jual atau bayar dengan kambing!”

Akhirnya pengawal Nyi Endit membawa kambing milik salah satu warga tersebut. Kambing yang diharapkan untuk membantu kehidupannya diangkut oleh jagoan Nyi Endit.

                “Kejam benar Nyi Endit itu. Tak tahu kesulitan orang.”

                “Kita yang tolol kenapa kita pinjam sama dia.”

                “Habis kemana lagi..”

*Di Tempat Lain*

                “Tanah ini mau dipakai Nyi Endit untuk Lumbung Padi. Maka tanahmu ini dibeli oleh beliau.” Salah satu jagoan dari Nyi Endit yang memaksa warga untuk menjual tanahnya.

                “Habis ini saya tinggal dimana?” Warga pemilik tanah tersebut memohon

Begitulah sehari-hari Nyi Endit memeras warga dengan bunga pinjamannya ataupun mengakali harta lain milik warga dengan menggunakan pengawalnya untuk mengancam dan memukul warga yang membantah atau menghalangi keinginannya.

Semakin hari harta Nyi Endit semakin berlimpah. Tanah, Sawah dan ladangnya semakin banyak. Ia pun semakin berkuasa di desa itu. Apabila musim panen tiba padi sudah penuh dan padat memenuhi isi halaman rumahnya.

Pada suatu ketika datang musim kemarau yang sangat panjang sehingga mengakibatkan musim paceklik dan meyengsarakan para petani yang sudah hidup kesusahan. Dalam tempo yang singkat penyakit kelaparan menghantui penduduk. Hampir setiap hari selalu ada kabar kematian penduduk karena kelaparan. Tetapi keadaan di istana tuan tanah dan lintah darat Nyi Endit justru sebaliknya. Hampir seminggu sekali Nyi Endit berpesta bersama sanak keluarga dan kerabatnya. Tiba-tiba ditengah keramaian itu muncu pengawal Nyi Endit dan menghadapnya.

                “Nyai, diluar ada pengemis yang memaksa ingin masuk ruangan untuk minta sedekah.”

                “Apa? Pengemis.. Tak ada sedekah yang kuberikan. Usir dia.”

Tetapi ternyata “pengemis” itu sudah berada di dalam ruangan tersebut.

                “Nyi Endit, kau benar-benar iblis betina yang kejam!  Tak mau memberikan sedekah pada manusia melarat macam aku. Sungguh terkutuk hidupmu Nyi Endit. Kau tega berpesta pora di tengah-tengah rakyat kelaparan dan sekarat karena darahnya setiap hari kau hisap. Betul-betul lintah darat terlaknat!” Kata si pengemis itu.

Hati Nyi Endit merasa panas ia pun menyuruh pengawalnya untuk menyerang pengemis itu. Serentak empat pengawalnya mencabut golok dan menyerang pengemis tua itu. Tetapi si Pengemis tua itu sangat lincah dan mampu menghindari serangan dari pengawal Nyi Endit. Semua tamu yang hadir pun menjadi sangat terkejut dibuat oleh pengemis itu.

                “Baiklah sebelum aku meninggalkan istanamu, karena kau tak mau berbaik hati padaku dan masyarakat lainnya, aku ingin memberikan pertunjukan padamu. LIhatlah ranting kayu ini kutancapkan ke tanah dan cabutlah kembali. Kau boleh mewakilkan kepada orang lain. Jika kalian dapat mencabutnya maka kalian adalah orang yang paling mulia di dunia ini” Kata si pengemis itu menantang.

Nyi Endit masih menganggap remeh si pengemis itu. Ia pun menyuruh pengawal-pengawalnya untuk mencabut ranting itu. Namun taka da satu orangpun yang dapat mencabut ranting tersebut termasuk dirinya.

                “Nyi Endit ternyata andalanmu yang kau bayar mahal itu tak berarti apa-apa bagimu. Lihatlah!”

Si pengemis itu dengan mudahnya mencabut ranting tersebut. Namun tiba-tiba lubang bekas tancapan ranting yang telah dicabut mengeluarkan air dengan deras.

                “Nyi Endit, sudah saatnya kau mendapat hukuman karena ketamakanmu dan dosa-dosamu memeras penduduk!” Si pengemis itu berkata lalu menghilang.

Kemudian terjadi ledakan hebat bersamaan dengan air yang keluar dari dalam tanah. Saat itu diluar juga sedang hujan deras, diselingi dengan guncangan-guncangan gempa bumi yang seakan-akan menarik desa itu kedalam perut bumi. Dalam sekejap Desa Nyi Endit sudah terendam air bagai sebuah danau kecil yang baru terbentuk. Kini dikenal dengan nama Situ Bagendit yang konon katanya diambil dari nama Nyi Endit agar orang-orang selalu sadar dan ingat akan nasib manusia yang tamak, kikir dan serakah dengan memeras orang lain.

Disisi lain nasib penduduk desa miskin lainnya selamat, karena sebelumnya telah diperingatkan oleh pengemis tua bahwa akan ada malapetaka banjir besar yang terjadi di desa itu sehingga mereka pergi mengungsi ke tempat lain.

Menurut sebagian orang di Situ Bagendit hidup seekor lintah sebesar Kasur yang merupakan penjelmaan dari Nyi Endit yang merupakan lintah darat penghisap darah penduduk dengan membungakan uang yang dipinjamkannya.

Comments



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *