Others / Social Life & Games

Curahan Hati Ankers (Anak Kereta)

Membicarakan peristiwa saat naik KRL commuter line seakan tidak ada habisnya. Pagi hari mulai pukul 6.30 sampai sekitar pukul 8.00 dan sore hari pukul 16.30 sampai sekitar pukul 20.00 adalah puncaknya kepadatan Kereta Commuter Line. Jika dibandingkan dengan waktu pulang sore, menurut saya pagi hari adalah yang terparah. Karena semua pegawai masuk kantor dengan waktu yang sama mulai dari pukul 08.00 – 08.30. Semua orang terburu-buru saat berangkat pagi dan berebut untuk bisa masuk kedalam gerbong kereta.

Sumber: Twitter Info Commuter Line (@commuterline)

Mungkin jika kita mengikuti himbauan dari Commuter Line diatas, penumpang yang berada di peron akan lebih tertib. Tetapi faktanya peron yang tidak mendukung (kecil) dan begitu banyaknya orang sehingga aturan atau himbauan tersebut tidaklah berlaku bagi warga penumpang Kereta Commuter Line. Belum lagi tidak ada tanda pintu akan berhenti tepat dimana (seperti di Stasiun MRT) jadi pastinya sepanjang peron akan dipenuhi orang karena sudah pasti semua ingin berada dibaris terdepan agar bisa segera masuk ketika pintu kereta terbuka. Tak heran sering terjadi peristiwa ribut dan teriak-teriak saat orang-orang yang hendak keluar dari kereta sulit keluar karena terdorong kerumunan masa yang berebut masuk ke dalam kereta. Semua orang panik. Selain karena waktu tertutup pintu kereta yang sangat singkat, juga terburu-buru oleh waktu supaya bisa sampai di kantor tepat waktu. Perjuangan tidak hanya sebatas berebut masuk kereta. Setelah bergelayutan di pintu kereta mereka yang ingin masuk juga harus mendorong dengan kuat agar bisa masuk kedalam dan tidak terjepit pintu. Disinilah cerita drama itu dimulai.

Sumber: Google

Sebagai ankers yang pergi dan pulang kantor dengan moda transportasi ini, saya merasakan banyak sekali dukanya. Baiklah, dimulai dari ketika berebut masuk kereta. Saya sering kesal dengan orang-orang yang berada di depan pintu karena menghalangi kami yang akan masuk. Mungkin stasiun selanjutnya dia akan turun tetapi kalo semua di depan pintu bagaimana orang-orang bisa masuk? Oke kalo memang stasiun selanjutnya mau turun sedikit ke depan boleh saja agar tidak terdorong jauh kedalam. Namun terkadang ada juga loh yang turunnya masih jauh tapi berada di depan pintu tidak mau masuk kedalam. Haduh saya geleng-geleng kepala sama orang yang kaya begini. Saya sering mengalami ketika pulang naik kereta tujuan Bogor dari stasiun karet. Saat itu Kereta terlihat kosong didalam tetapi menumpuk di dekat pintu kereta. Ini mau pada turun dimana sih? Kalo turun di stasiun Sudirman sepertinya hampir tidak ada karena pada jam pulang umumnya orang-orang turun di Manggarai, Pasar Minggu, Depok dan Bogor. Baru stasiun karet loh sudah menumpuk di depan pintu. Entahlah jika di gerbong campur. Yang saya alami ini adalah di gerbong wanita. Saya memang selalu naik gerbong wanita karena saya merasa risih saja jika penuh dan harus naik gerbong campur.

Melanjutkan, setelah masuk kereta masih banyak lagi drama yang bisa diceritakan. Kondisi kereta semakin penuh. Tiap stasiun banyak yang naik namun sedikit yang turun. Kita harus pintar-pintar menyeimbangkan tubuh kita saat kereta melaju juga saat kereta mengerem supaya kita tidak terjatuh. Ini seringkali menjadi bahan yang diributkan antar para penumpang. Ada saja orang yang tidak mau berpegangan dan justru mengikuti arus hingga orang-orang yang berpegangan di dalam gerbong harus menahan beban dari mereka yang sengaja tidak berpegangan. Orang-orang seperti itu yang tidak mau berpegangan, sering ditegur oleh penumpang lain. Namun alasannya karena tidak ada pegangan atau pegangannya terlalu jauh. Terkadang memang sih tidak ada pegangan tetapi seharusnya bisa berusaha menahan beban badannya dengan kakinya. Saya sendiri pun melakukan itu supaya tidak terombang-ambing dan sempoyongan mengikuti laju KRL dan desakan penumpang lain. Ya walaupun dalam kondisi tertentu kaki saya tidak dapat menahan keseimbangan. Tetapi setidaknya jikapun oleng kondisinya tidak separah jika tidak berusaha dan pasrah saja dengan keadaan.

Pengalaman saya lainnya ketika naik kereta adalah, ketika kereta sedang sangat penuh, jarak antar penumpang sudah pasti sangat rapat dan menempel. Seringkali wajah saya terkena kondean kerudung mbak-mbak yang besar sekali. Ada pula yang rambutnya beterbangan namun tidak di atur kedepan atau diikat. Juga ada yang diikat rambutnya tapi diikat nanggung. Alias ikatannya ditengah bagian belakang kepala yang pasti akan menabrak wajah orang yang ada dibelakangnya saat kondisi sedang berdesakan.  hufft…  🙁 Sebenarnya Itu adalah hal kecil yang banyak orang tidak peka. Semoga yang membaca tulisan ini bisa lebih peka terhadap lingkungan sekitar ya… *peace*

Hal sepele lainnya adalah sepatu yang digunakan. Mohon maaf, punten… Mungkin tips dari saya jika ingin naik kerita jangan menggunakan sepatu yang terlalu tajam atau keras ya. Saya sudah merasakan sakitnya terinjak oleh sepatu yang bahannya seperti kayu. Luar biasa sakitnya. Sedih bukan main.. Apalagi dengan jalannya kereta yang sering membuat kita sempoyongan hingga tidak sengaja menginjak kaki penumpang lain. Hal-hal seperti itu mungkin sering tidak terpikirkan oleh banyak orang. Namun alangkah baiknya kita lebih memahami dan saling pengertian.

Masih seputar drama perkeretaan. Memang tidak ada habisnya. Disamping dari kondisi dalam angkutan kereta. Diluar hal itu saya juga sering melihat banyak ludah yang berserakan di peron stasiun. Sangat sedih dengan kondisi seperti ini. Masuk stasiun jalan di area peron banyak ludah ataupun dahak yang menjijikkan membuat tidak nyaman. Belum lagi kondisi di dalam kereta yang sudah pasti penuh dan tidak nyaman. Lalu turun dari kereta berjalan lagi di peron menemui kembali ludah-ludah yang terdapat di aspal peron. Sungguh lengkap sudah… 🙁

Baiklah teman-teman sebenarnya banyak sekali keluh kesah lainnya tapi sepertinya cukup sudah untuk saat ini. Semoga teman-teman yang membaca ini semakin sadar dan peka dengan hal-hal kecil yang dapat membantu ketertiban dan membuat kenyamanan sesama warga penikmat transportasi umum Kereta Commuter Line. Kalau ada tambahan curhatan lainnya silahkan berbagi di komen ya :).

Comments

Anggi
September 16, 2019 at 10:27 pm

Memang sangat kurang kepedulian antar sesama pengguna transportasi umum ini, entah manusianya yg kebanyakan atau armadanya yg kurang.. selalu penuh pada peak hour, dan harum dr berbagai macam bentuk orang bercampur didalamnya, dan itu sangat membuat tidak nyaman karna saya setiap hari selalu naik kereta untuk bekerja.. semoga pihak krl bisa menemukan solusi atas masalah ini..



Tuty prihartiny
September 19, 2019 at 1:55 pm

Kak… seru banget ya episode drama naik kereta api. Secara sistem sudah lebih baik ya. Tapi sebagian penumpangnya ini yang ‘luar biasa’



September 19, 2019 at 2:01 pm

Gw belom pernah ngalamain drama yang gimana-gimana banget sih pas naik KRL.. cuma pengen aja, suatu hari ada gerbong khusus buat ibu2 yang masih dalam masa menyusui anaknya, jadi biar mereka lebih nyaman..

Btw, baca tulisan ini menghibur banget karena gw sampe ketaw-ketawa..
Gw jadi ngebayangin kalo seandainya dibaca sama turis mancanegara yang lagi riset dalam rangka backpackeran di Indonesia dan mau naik KRL, informatif & lucu ya..hehe..

Btw, nice posting 🙂



    October 10, 2019 at 2:10 pm

    terima kasih kak 🙂
    iya aku juga berharap yg sama ada gerbong khusus untuk ibu menyusui supaya saat di kereta gak nangis-nangis ya anaknya. Untuk di stasiun sih setauku sudah ada kabin menyusui. walaupun belum semua stasiun ada.



September 19, 2019 at 2:08 pm

Susah mba. Kebanyakan masyarakat kita tidak peduli dengan lingkungan sekitar, sulit untuk tertib dan mementingkan ego masing masing. Merasa paling benar. Ini pandangan saya ya. Dan berdasarkan pengalaman saya.

Drama drama seperti ini ga hanya di kreta tapi pengendara kendaraan pun tidak kalah heboh dramanya.

Biasanya terjadi di perempatan jalan dan tidak ada lampu merah yang mengatur. Semuanya mau cepat semuanya mau duluan ga sabaran. Ga ga bakal keurai kemacetannya.

Contoh lain di Lift prioritas MRT sudah jelas jelas lift itu khusus di gunakan untuk yg menjadi prioritas tetapi disalah gunakan.

Rambu rambu lalu lintas, selama ga ada polisi jadi halal untuk di langgar.

Sayapun sebagai anker sudah lumrah mengalami berbagai drama di stasiun dan di dalam kereta. Dengan sifat unik masing masing. Di senyumin aja. Jd tambahan referensi jenis drama lain. Dan di KEMBALIKAN KE DIRI SENDIRI JD GW GA BOLEH BEGITU.

#numpangcurhat



September 19, 2019 at 10:21 pm

Pantesan ya temen kantor dulu sukanya rada maleman pulang, males katanya kalo barengan jam pulang kantor, ternyatah seperti ini.



September 19, 2019 at 10:24 pm

Aku malah pernah lihat anak kecil mau pipis di stasiun sama ibunya disuruh pipis di situ aja tepat di bawah kursi di jalur kereta



September 19, 2019 at 10:26 pm

Hai Puspaaa,salam dari mantan anak kereta yaaaa. Hahah

Btw, miris sih dengan kondisi transportasi yang sangat dibutuhkan banyak orang tapi armadanya kurang sekali.

Eh aku udah sampaikan untuk penambahan armada waktu ikut event BPTJ kemaren. Yang ada sosialisai untuk lebih banyak jalan kaki itu lho. Baca deh ulasannya di blog aku. Semoga saran dari mantan anker ini di dengar mereka ya.



September 20, 2019 at 6:00 am

Makannya gak salah ada ungkapan anak kereta itu hebat-hebat apalagi cewenya. Dulu sempet stay di Jakarta dan ngalamin semua hal yang mba Puspa tulis di atas, gilsss paling ngeri justru gerbong cewe. Cuma emank was-was juga kalo digerbong barengan. Inget banget dulu, berangkat masih rapi, keluar krl udah berantakan. Hahaha. Semangat mba Puspa…



September 20, 2019 at 6:04 am

Apalagi nyobain kereta api jaman dulu yang smua binatang sayuran dan tukang2 masuk ke gerbong. Duh sedih banget masa3 itu mana gakda acnya. Sekranh sih udah rada jauh lebih manusiawi sih meski masih banyak yg perlu di benahi



Airin
September 20, 2019 at 10:10 am

Aku pulang suka klo dapat kursi trus pura-pura tidur. Gimana donk orang capek banget. Penuh sekalian juga seneng karena aku tinggal nyender yang gendut-gendut. Haha.. maju mundurpun g bisa.



September 20, 2019 at 5:35 pm

Emang ya kalo naik KRL haruz kuat fisik dan mental. Pernah ngerasain sih jadi anak kreta. Berangkat dan pulang selalu terjepit.



September 20, 2019 at 7:19 pm

Tulisannya dari hati banget yaa… Hehe. Tapi commuter line skrg jauh lbh baik dr yg dulu, yg babyak org duduk di atap kereta



September 21, 2019 at 9:27 am

Ya ampun.. aku padamu, aku pun merasakan itu.. sebel banget emang orang2 yg demikian..

Tambahan kadang ada yang suka batu ga mau kasih kursi untuk penumpang prioritas dengan alasan lelah. Iya, semua orang juga lelah kan sama2 abis pulang kerja. Tapi alangkah dermawannya kalau ga pura2 tidur saat ada penumpang yg benar2 membutuhkan. Suka sebel sama penumpang yg kayak gitu. Hih



September 21, 2019 at 12:44 pm

Akuh pernah hampir sesak nafas kegencet orang-orang, sedih aku tuh badan nya kecil hikss ampe keluar air mata gak bs keluar dr kereta mau turun tebet akhirnya turun pasar minggu.



September 21, 2019 at 10:59 pm

yg bikin ga kuat itu, bau ketek kalo di kereta.
udah dempet-dempetan. eh bau semerbak di depan hidung



September 21, 2019 at 11:53 pm

Iya ya Kak alangkah lebih baik kalau kemajuan fasilitas dibarengi dengan kepekaan para pengguna KRL. Pasti lebih nyaman ya rasanya.



September 22, 2019 at 9:06 am

Semangat, kak
Aku belom pernah ngalami jadi anker. Rumahku akses kemanapun enakan pake Transjakarta karena ga ada stasiun kereta yang deket.
dramanya banyak ternyata ya…Semoga bisa ada solusinya dan banyak yang lebih peka dengan lingkungannya



September 22, 2019 at 11:50 am

Aku pemuja kereta sejak jaman sekolah dulu. Sekarang kondisinya lumayan enak dengan adanya gerbong khusus perempuan. Etapi, sesama perempuan kepada perempuan lain juga kadang terlihat kurang yah solidaritasnya. Sama ibu hamil aja kadang perempuan suka tega banget. Tapi plg sebel kalo liat Ibu2 tidak berusaha mendidik anak perempuannya untuk lebih bersimpati pada orang yang lebih sepuh dan ibu hamil. Jiwa pendidikku ingin berteriak mendidik dua generasi ituh….hahaha…



September 22, 2019 at 10:09 pm

Aku serasa nostalgia baca tulisan kakak, sebagai alumni akupun pernah merasakannya. Drama ini selalu seru untuk dikenang ya kak.
Akupun kangen jadi anker, karena warga anker tangerang tuh solid banget, saking deketnya udah kaya sodara setiap hari ketemu.
Weekend bisa jalan bareng padahal kenal di kereta. Dan menurut aku seru banget sih.



September 24, 2019 at 10:51 pm

Mbaa.. i knoe how it feels.
Sebaiknya sih buat kelakuan tidak terpuji yang bisa langsung ditegur, mending langsung diomongin. Karena bisa juga ybs belum paham.

Daripada kita ruwet tapi mereka santuy dan buruknya tidak teredukasi.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *