Short Story / Stories

Dia, Antara Aku dan Sahabatku (Part 2) – Cerpen

Hari itu tampak siswa-siswi keluar dari Lab menggunakan jas putih. Fiona dan Rina berjalan bersama keluar dari Lab. Kelas B sudah selesai menggunakan Lab. Kini giliran kelas A yang akan memulai pelajaran Kimia di Lab. Alan yang sengaja tak membawa Jas Lab agar bisa berbasa-basi dengan Fiona langsung menghampirinya.

“Fi. gue boleh pinjem jas labnya?” Alan menghadang Fiona yang sedang berjalan dengan Rina.

Fiona dan Rina terkejut dengan Alan yang tiba tiba berada dihadapannya.

“Tapi ini ukuran S pasti kekecilan, punya Rina juga M kayanya gak muat.” Fiona menjawab dengan wajah yang sedikit kebingungan.

Tak terpikirkan oleh Alan bahwa jelas ukuran tubuh mereka berbeda. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan perasaan yang malu karena hal itu tak terpikirkan olehnya. Ia membuat masalahnya sendiri dengan sengaja tidak membawa jas lab tetapi tidak terpikirkan bahwa ukuran jas labnya berbeda dengan Fiona.

Fiona yang melihat wajah Alan kebingungan langsung memanggil salah satu temannya yang memiliki ukuran tubuh sedikit mirip dengan Alan. Ia meminjam salah satu Jas temannya dan memberikan padanya. Dengan penuh semangat Alan menerimanya.

“Fi, boleh gue minta nomor handphone lu? Nanti gue mau balikin ini jas.” Tanya Alan kepada Fiona.

Fio menoleh mencari Ali yang sudah berjalan jauh setelah meinjamkan jasnya. Sementara Rina entah sudah berada dimana. Karena mereka buru-buru untuk berebut tempat duduk di kelas selanjutnya. Akhirnya merekapun bertukar nomor handphone. Sejak saat itu mereka pun mulai menjadi dekat. Alan sering mengiriminya SMS.

Berawal dari Jas Lab Alan dan Fiona semakin dekat. Ketika Fiona berada di perpustakaan, Alan sering datang sambil membawa buku bacaan dan menghampiri Fiona yang juga sedang membaca. Walaupun Fiona hanya menganggap Alan sebagai teman biasa, namun Alan tidak mempedulikan hal tersebut dan terus mendekati Fiona. Selama ini Fiona tidak pernah menceritakan kedekatannya dengan Alan kepada Rina karena ia merasa bahwa dia dan Alan hanyalah sebatas teman biasa. Namun lama kelamaan hatinya luluh akan sikap Alan terhadap dirinya. Selama ini Alan memang memperlakukan Fiona dengan baik. Mereka juga sering bertemu. Tak jarang merekapun saling mengobrol.  Sepertinya Fiona luluh dengan kebaikan dan perhatian yang diberikan Alan kepadanya. Ia pun memutuskan untuk menceritakan kedekatannya dengan Alan kepada Rina sahabatnya.

“Rin, Lu dengerin kan?”

“Iya Fio gue dengerin ko. Ciee.. kayanya dia suka tuh sama lu.” Rina menjawab seadanya sambil tetap fokus pada majalah yang baru ia beli.

Entah Rina benar-benar mendengarkannya atau tidak namun Fiona tidak mempedulikannya karena saat ini hatinya sedang senang. Ia tersenyum sendiri sambil memeluk buku yang dipinjamnya dari perpustakaan.

Hari-hari pun berlalu. Tidak terasa sudah hampir tiga tahun di sekolah. Ia sudah lama dekat dengan Alan sejak di kelas satu, namun Alan sepertinya masih ragu-ragu untuk menyatakan perasaannya kepada Fiona karena ia sangat pendiam. Alan pun takut jika nantinya ia ditolak dan hubungannya dengan Fiona menjadi renggang. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap menjadi temannya agar ia bisa tetap dekat dengan Fiona.

***

“Rin lu kenapa senyum-senyum?” Fiona bertanya kepada sahabatnya yang dari tadi terlihat sangat senang dan senyum-senyum sendiri.

Rina pun bercerita pada Fiona. JEDDEERRR.. Fiona sangat terkejut karena yang diceritakannya adalah Alan .Seseorang yang selama ini dekat dengannya yang ia pikir bahwa cowok itu telah menyukai dirinya. Fiona pun terdiam dan tidak merespon apa yang telah diceritakan Rina. Rina menceritakan kebaikan Alan kepadanya dan teman sebangku Fiona itu pun sangat menyukai Alan. Rina berharap Alan segera menyatakan perasaan padannya.

“Fi, lu kenapa sih kok diam aja?” Rina menegur Fiona yang sejak tadi tak merespon. “Nggak pa-pa kok.” Ucapnya dengan senyum getir.

“Sejak kapan lu deket sama dia?”

Mata Rina menerawang ke depan. “Gue mulai deket sama Alan pas akhir-akhir kita di kelas dua. Menjelang kenaikan kelas. Emangnya kenapa?” tanyanya mengalihkan pandangan pada Fiona “Oh ya gimana hubungan lu sama Adnan?”

Fiona semakin terkejut dengan apa yang dikatakan Rina. Berarti selama ini Rina tidak mendengarkan ceritanya dengan baik. Ia menyangka bahwa yang selama ini dekat dengannya adalah Adnan bukan Alan. Padahal jelas-jelas waktu itu Fiona telah menyebutkan nama Alan. Fiona pun bagai disambar petir di hari yang cerah. Ia sangat terkejut dan sedih. Setelah lama terdiam akhirnya Fiona pun menjawab.

“Gue sama dia baik-baik aja kok.” Ucap Fiona dengan senyum getirnya.

***

“Aduh gue bingung nih, Dik. Gimana ya kayaknya Rina salah paham sama gue. Padahal gue pengen deket sama dia supaya gue bisa tau tentang perasaan Fiona ke gue. Tapi kok jadi kaya gini ya?”

“Ah, lagian elu sih ngapain coba. Lu tuh terlalu baik sama si Rina. Kan jadi salah paham kan. Cewek tuh kalo dibaikin dikit bisa salah paham.”

“Ya kan gue tuh baik sama dia supaya gue bisa deket sama dia terus gue bisa tau banyak tentang Fiona.”

Seminggu pun telah berlalu. Semakin lama Fiona sering melihat Rina berjalan bersama Alan. Mereka terlihat semakin dekat. Semenjak itu juga Fiona jarang bertemu dengan Alan di perpustakaan. Tidak seperti biasanya. Hatinya semakin sakit ketika melihat mereka berdua. Dalam hatinya ia berkata, bagaimana bisa? Kenapa bisa jadi begini dan kenapa harus sahabatku sendiri?  Saat itu juga Fiona terpikir bahwa Alan mendekatinya hanya agar bisa mendapatkan informasi tentang Rina karena saat mereka dekat, Fiona sering menceritakan tentang Rina kepadanya. Fiona pun  menjadi semakin kecewa. Ia pun sering menghindar ketika bertemu atau saat mereka berjalan bersama di sekolah dan ketika ia berpapasan dengan Alan pun ia sering menghindar walaupun Alan tidak sedang berjalan bersama Rina.

Hari-hari berlalu. Gossip pun menyebar bahwa Alan dan Rina telah jadian. Fiona pun semakin kecewa. Bahkan sahabatnya tidak menceritakan kepadanya. Setelah beberapa minggu Rina dan Alan jadian, gossip lain pun menyebar bahwa Alan dan Fiona sempat dekat. Bahkan gosipnya Alan sering menanyakan tentang Fiona kepada teman-teman sekelas Fiona.

“Fio, ko bisa sih si Alan sama Rina jadian? Bukannya si Alan sukanya sama elu ya? Dia kan sering nanya-nanyain elu ke gua, ke temen-temen lain juga.” Filsya berkata kepada Fiona sambil berjalan setelah mereka selesai menyantap makan siang.

“Hmmm, masa sih?” Fiona pura-pura tidak tahu sambil tersenyum paksa.

Tidak terasa Hari berlalu semakin jauh semakin mendekati Ujian. Gossip tentang hubungan Alan dan Rina yang sering bertengkar pun sering terdengar di telinga Fiona. sejak mereka jadian memang Fiona jarang sekali bersama-sama dengan Rina bahkan Rina pun sudah tidak pernah bercerita apapun kepadanya seperti dulu. Kabarnya Rina sering ngambek dengan Alan karena cemburu. Alan pun akhir-akhir ini sering menghampiri Fiona dan bercerita tentang Rina. Ia bingung dengan sikap Rina yang berubah-ubah dan sering marah tanpa sebab. Fiona hanya bisa tersenyum cewek itu tidak bisa menjawab. Ia hanya berkata bahwa Rina memang sudah jarang bercerita padanya. Tidak seperti dulu. Setelah beberapa  hari terdengar kabar bahwa Rina dan Alan bertengkar, akhirnya kabar itu pun surut karena mereka telah berbaikan dan telah kembali seperti biasanya.

***

Ujian Nasional pun telah berakhir. Keesokan harinya murid-murid kelas tiga yang telah selesai menjalankan ujian, tetap pergi ke sekolah karena diadakan persiapan Pentas dari pelajaran Seni. Anak-anak kelas tiga akan melakukan pentas drama dan band.

karena semua anak diwajibkan tampil, maka seluruh murid pun berkumpul di kelas masing-masing untuk mempersiapkan grupnya . Tiba-tiba saja Rina keluar kelas dengan wajah kesal. Fiona yang melihat ekspresi Rina langsung mengikutinya. Saat itu Alan bertemu dengan Rina. Mereka pun bertengkar. Entah apa yang membuat mereka bertengkar. Namun mereka bertengkar hebat. Rinapun memukul Alan dengan Buku. Alan yang kesal pun sangat emosi. Ia langsung melempar pulpen yang ia pegang kearah Rina yang hendak pergi. Walaupun tidak kena tetapi benda itu hampir saja mengenai Rina.

“LU TUH ANEH BANGET… FREAK!!” Bentak Alan pada kekasihnya yang masih berdiri di tempat dengan tubuh gemetar. Perkataan dan perbuatan Alan membuat Rina terkejut.

Fiona pun melihat kejadian itu. Alan terkejut ketika Fiona menyaksikan pertengkaran mereka. Cewek itu tampak ikut terkejut dengan apa yang dilakukan Alan pada Rina. Tubuhnya pun ikut gemetar menyaksikan pertengkaran tersebut. Fiona menarik Rina ke dalam pelukannya. Air mata Rina pun terjatuh. Ia menangis terisak-isak dengan tubuh yang gemetar.

“Sekarang juga kita putus!” Teriak Rina dalam pelukan sahabatnya.

“Oke, Fine! Jangan temuin gue lagi!” Alan pun membalasnya dengan kesal.

Alan menatap Fiona yang ikut menangis karena sahabatnya. Ingin rasanya ia menjelaskan yang sebenarnya kepada Fiona namun ia tidak bisa karena ada Rina disitu. Dengan berat hati, Alan pun pergi meninggalkan mereka berdua.

Dua minggu berlalu setelah kejadian itu. alan pun tidak pernah menjelaskan apapun kepada Fiona. Dika sahabat Alan pun bercerita kepada Fiona, bahwa pertengkaran itu terjadi karena Rina yang cenburu berlebihan tanapa sebab dan sering berprasangka buruk terhadap Alan. Ia juga sering marah dan tiba-tiba memukuli Alan namun Alan hanya diam saja karena ia masih menghargai Rina sebagai perempuan. Namun kekesalan Alan memuncak karena Rina telah berkali-kali mebuatnya malu karena terus dipukuli dan dimarahi di depan banyak orang ketika mereka jalan bersama. Juga sifat Rina yang manja, posesif dan pencemburu yang membuat Alan tidak tahan.

***

Hari perpisahan pun tiba. Alan menghampiri Fiona yang duduk  terdiam memperhatikan teman-temannya berfoto-foto dari jarak yang agak jauh.

Alan mengambil tempat disebelahnya. Meskipun Fiona tak menoleh tetapi cewek itu menyadari kehadiran Alan disebelahnya. Cowok itu menelan ludah dan memberanikan diri untuk menegur Fiona. “Fio..”

Fiona tak menggubrisnya.

Alan menarik napas dalam. “Gue mau minta maaf soal kejadian waktu itu. kejadian dimana gue bertengkar sama Rina.” Ucapnya. Alan menatap sunguh-sungguh cewek yang memunggunginya. Ia berharap Fiona mau menoleh kepadanya walau hanya sedetik.  “Maaf kalo bikin lu takut. Gue ngga bisa ngejelasin apa-apa. Yang jelas gue ngga pernah bermaksud nyakitin Rina. Lo harus tau kalo selama ini gue itu sukanya sama elu.”

Kata-kata Alan membuat Fiona terbelalak. Ia langsung menoleh cepat dan menatap Alan.

Wajah Fiona tertunduk diam. Alan bisa melihat mata Fiona yang mulai berkaca-kaca. Dengan sekuat tenaga gadis itu menahan air matanya agar tidak jatuh.

Alan menghela napas. “Gue ngerti ko. Gue ngga berharap apapun. Yang penting gue bisa nyampein ke elu. Selama tiga tahun gue selalu berusaha ngedeketin lu. Setidaknya gue udah nyampein itu karna gue ngga mau nyesel terus nantinya.”

Alan melempar senyum getirnya. Dan tak lama ia pun pergi meninggalkan Fiona. Fiona terus menatap punggung Alan yang semakin lama semakin menjauh. Air mata pun jatuh ke pipi Fiona. selama ini ia menahan air mata agar tidak keluar karena Alan yang bersama dengan Rina, yang sebelumnya ia pikir bahwa Alan menyukainya. Namun sekarang saat akhirnya Alan menyatakan perasaan kepadanya, justru ia tidak bisa membalasnya dengan menerimanya karena sahabatnya. Air matanya terus menetes.  Ia segera menghapus air matanya dan segera bergabung bersama teman-temannya.

 

Cerpen oleh : Puspa

-2013-

 

Baca Juga:

Dia, Antara Aku dan Sahabatku (Part 1) – Cerpen

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *