Cerita

Dia Diantara Aku dan Sahabatku (Part 1) – Cerpen

1st

Suara bel masuk berbunyi. Semua siswa baru berkumpul di lapangan. Mereka diberikan pengarahan mengenai peraturan-peraturan yang harus dipatuhi baik di Sekolah maupun di kelas. Semua siswa barupun telah berbaris di lapangan untuk mendengarkan arahan dari Kepala Sekolah. Dari arah belakang Kepala Sekolah, datang seorang anak perempuan yang juga merupakan siswi baru di SMA tersebut. Ia berjalan sambil menunduk malu karena semua siswa baru yang telah berbaris menatapnya. untuk beberapa saat siswi itu menjadi pusat perhatian karena keterlambatannya. Kepala Sekolah pun menyadari kedatangannya, dan mempersilahkannya untuk segera bergabung dengan teman-temannya. Anak perempuan itu melangkah menuju barisan. Ia sama sekali tak berani menegakkan kepalannya. ia tersenyum kikuk sambil masuk ke dalam barisannya. Namanya Fiona. Gadis kurus dengan rambut sebahu. Ia adalah tipe gadis yang pemalu dan pendiam. Ia tidak terlalu banyak bicara dengan orang yang belum dekat dengannya.

“Hey, lu merhatiin siapa sih, Lan?” Dika menyenggol bahu Alan, temannya sejak SMP.

“Ah, enggak. Gue cuma ngeliatin cewek yang tadi terlambat. Dia itu manis banget ya. Keliatannya kalem.”

“Jiiaahhh..lu mah baru juga mau masuk udah ngincer cewek aja. Tapi Iya juga sih. Dia emang cakep.”

“Eh, awas lu ya kalo nyerobot. Inceran gue tuh.” Ucap Alan dengan nada mengancam. “

“Yaelah..kagak, Lan. Lagian kalo bersaing pake cara sehat dong. Gaya lu pake ngancem-ngancem segala.” Tutur Dika sambil meringis.

Pengarahan pun selesai, semua siswa baru dipersilahkan untuk memasuki kelas masing-masing sesuai dengan pembagian baris yang telah dilakukan.

“Ah, sial nih gue nggak sekelas sama dia lagi.” Rutuk Alan dalam hati sambil mengedarkan pandangan ke seisi kelasnya.

“Kenapa lu, Lan? Pasti lu kesel ya nggak sekelas sama cewek tadi. Hahaha.”

“Bukan gitu, Dik. Gue tuh lagi bingung gimana ya cara ngedeketin cewek itu kalo nggak sekelas. Gue juga belum tau namanya lagi.”

“Yaelah tinggal kenalan aja kok susah.”

“Ya dia kan keliatannya pendiem. Masa tiba-tiba langsung gue deketin. Kalo orang pendiem itu susah dideketinnya. Setidaknya gue harus punya keperluan sama dia baru kita bisa ngobrol dulu kaya temen. Kalo ngga ada yang penting tapi tiba-tiba gue ngajak PDKT yang ada dia malah menghindar.”

“Tenang nanti juga lu bakal kenal sama dia. Nyantai aja, bro.” Dika menepuk bahu Alan meyakinkan temannya yang kelihatan pesimis.

2nd

Suasana Kelas B sangat sunyi dan tenang. Namun suasana sunyi dan tenang itu bukan disebabkan oleh anak-anak yang memperhatikan pelajaran, tetapi karena sebagian besar dari mereka merasa bosan. Pelajaran yang sedang berlangsung membuat seisi kelas mengantuk. Saat bel pulang sekolah berbunyi, sorak-sorai kebahagiaan para murid pun terdengar keras ke seluruh penjuru sekolah. Fiona, dengan ekspresi yang bertolak belakang dari teman-teman sekelasnya membereskan semua buku yang tergeletak di mejanya lalu keluar bersama Rina. Fiona sudah berjanji untuk berkunjung ke rumah Rina hari ini. Rina adalah salah satu teman sekelas Fiona yang pertama kali mengajaknya mengobrol. Ia juga teman sebangku Fiona. Rina dan Fiona berkenalan sesaat sebelum pelajaran dimulai.

“Fi, anterin gue ke toilet dulu yuk.. Lo jadi kan kerumah gue kerjain PR bareng..”

“mm iya Rin, kamu ke toilet duluan aja biar lebih cepet. soalnya aku mau ke perpus dulu ya sebentar mau pinjem buku buat referensi tugas kita.”

“Oke deh.. gue nanti tunggu di lobby ya. sampe ketemu dibawah.”

“Oke sampe ketemu dibawah.” Balas Fiona.

Fiona pun masuk ke dalam perpustakaan dan mencari buku yang ia butuhkan. Sementara itu Alan bersama temannya baru saja keluar dari kelasnya. Mereka keluar kelas terlambat karna mereka mengobrol dulu setelah jam pelajaran selesai. Ia keluar bersama 3 temannya sambil tertawa membahas sesuatu. Ketika melewati perpustakaan Alan, melihat Fiona yang sedang di perpustakaan melihat-lihat buku. Ia melihat Fiona yang sibuk membolak-balikkan halaman buku yang ia pegang dari luar dinding perpustakaan yang terbuat dari kaca. Seketika ia berhenti, sementara ketiga temannya sudah berjalan di depan sambil mengobrol dan tertawa. Temannya yang merasa Alan tertinggal, lalu berbalik dan kembali menghampiri Alan.

“Hei, lo ngapain sih?” Tanya Ivan dengan kedua temannya yang juga mencari-cari apa yang dilihat Alan.

“Ya ampun ternyata cewe itu bro.” Dika menjawab pertanyaan Ivan dan satu temannya lagi yang bernama Abi.

“Gua penasaran sama cewe itu.” Alan menjawab pertanyaan ketiga temannya dan ia pun langsung masuk kedalam perpustakaan.

Alan menghampiri buku tamu di dekat penjaga perpustakaan. Ia melihat nama yang ada di buku pengunjung. Karna hari ini adalah hari pertama sekolah maka belum banyak anak kelas 10 yang mengunjungi perpustakaan. Ia melihat 6 nama yaitu Alia, Dira, Gio, Dahlia, Rosa, dan Fiona.

“Lan lo samperin aja sih. Panggil aja salah satu nama ini ntar juga nengok.” Dika memberikan ide.

“Ah bener juga lo.” Alan bergegas menghampiri Fiona.

Dari ujung lorong rak tempat Fiona berdiri ia pun memanggil satu nama pertama sebagai percobaan.

“Alia..” Alan memanggil dengan suara yang sedikit keras.

Fiona menoleh ke arah Alan yang menyebut nama seseorang dengan suara yang cukup keras. Seketika seseorang dibalik rak sebelah menghampiri.

“Lo manggil gue?..”

“Hah sorry gue salah panggil nama.sorry sorry..” Alan menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil.

Teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

“Woi jangan berisik.. ini perpustakaan. Seorang laki-laki yang nampaknya kaka kelas menegur teman Alan yang tertawa cukup kencang.

“Sorry ka..” Mereka meminta maaf dengan wajah yang masih geli setelah tertawa akibat tingkah Alan.

Fiona yang melihat Alan dan teman-temannya tersenyum kecil karna tingkah mereka dan berjalan keluar melewati mereka karna telah menemukan buku yang dicari. Alan melanjutkan memanggil nama-nama lainnya dengan suara yang lebih pelan sebelum Fiona berjalan jauh.

” Dira.. Dahlia.. Rosa…. Gio..

Fiona…”

Namun Fiona sudah berlalu keluar. Dan teman-temannya pun menahan tawa..

“Lo ngapain sih nyebutin nama-nama disini.” Seorang perempuan menghampiri dan bertanya.

“Sorry.. Sorry.. mmm lagi nyari nama orang.” Alan menjawab dan langsung pergi berlari keluar perpustakaan diikuti teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Gila Lu nama cowo lu sebut juga.” Tutur Abi sambil tertawa dengan kedua temannya Ivan dan Dika.

“Ah elo pada nih. Gua tadi kan ngapalin nama yang dibuku yaudah gue sebut semuanya.” Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Pokonya lo pada harus bantuin gue besok oke..”

“Lan.. lan lo baru masuk sekolah udah ngincer cewe aja..” Abi menjawab.

Mereka pun berjalan bersama keluar menuju parkiran untuk pulang dan masih tertawa geli akibat kejadian di perpustakaan tadi.

3rd

Matahari pagi telah menghiasi langit. Kendaraan sudah berlalu lalang cukup padat. Sebuah kendaraan bermotor berhenti di depan sokolah yang terlihat cukup elit. Sekolah berstandar internasional yang siswa-siswinya merupakan anak-anak orang berkelas dari kalangan orang berada.

“Sampai jumpa. Hati-hati yah.” Fiona turun dari sepeda motor yang dikendarai ayahnya dan segera masuk menuju lapangan untuk apel pagi.

Suasana dilapangan sudah cukup ramai. Siswa-siswi sudah banyak yang berkumpul menunggu kepala sekolah memimpin apel pagi hari ini. dari jauh Fiona sudah melihat Rina yang sedang mengobrol dengan teman-teman lainnya dan melambaikan tangannya ketika Fiona datang menghampirinya.

“Rina, Fia, Riri…” Fiona menyapa.

Mereka bertiga tersenyum membalas. Tidak lama kemudian kepala sekolah datang dan naik keatas mimbar yang ada di depan lapangan untuk memimpin apel dan memberikan pengarahan kepada seluruh siswa-siswi. Siswa-siswi berbaris rapi sesuai dengan kelas mereka dan membagi ke beberapa barisan. Terlihat beberapa orang siswa juga yang terlambat untuk menghadiri apel pagi. Salah satunya adalah Alan. Siswa kelas 10 A. kepala sekolah memberikan pengarahan kepada siswa-siswi mengenai peraturan, membahas sekilas mengenai kegiatan belajar di sekolah dan memperkenalkan siswa-siswi yang sudah berprestasi mengharumkan nama sekolah dengan tujuan memberikan motivasi kepada siswi-siswi baru kelas 10. Kemudian tidak lupa, ia juga memberikan teguran kepada siswa-siswi yang terlambat pagi ini dengan menyebutkan nama-nama dan kelas dari anak-anak tersebut yang sudah dicatat oleh guru piket apel sebelumnya.

“Saya harap besok anak-anak yang saya sebut namanya ini bisa lebih disiplin dan tidak terlambat untuk apel pagi. Dan saya juga berharap anak-anak lain yang hari ini tepat waktu, tidak terlambat keesokan harinya.” Kepala sekolah menegur juga menutup apel pagi hari ini.

Anak-anak pun berbaris masuk ke dalam gedung sekolah menuju kelas mereka masing-masing, kecuali anak-anak yang terlambat diberikan hukuman 5x memutari lapangan.

Semua anak telah masuk kelas. Guru pun sudah memasuki kelas masing-masing.

“Si Alan kayanya ga bisa tidur mikirin cewe sampe terlambat gini.” Dika berkata pada Abi dan Ivan yang duduk di belakangnya sambil tertawa.

Tak lama pelajaran dimulai, terdengar suara Pintu kelas 10 A diketuk. Guru piket masuk.

“Pagi pa. saya mau memperkenalkan anak-anak yang terlambat hari ini di semester baru.” Pak Danu guru Bahasa Indonesia yang piket hari ini berbicara sambil tersenyum dengan diikuti segerombol siswa-siswi yang datang terlambat hari ini. Mereka berjalan berbaris teratur masuk dengan kepala yang menunduk dan berdiri di depan kelas. Seketika anak-anak dikelas bersorak.

HUUUUUUUUU….

“Anak-anak ini siswa yang terlambat di hari kedua semester baru ini. Hari pertama tidak ada hukuman karna kami masih memberikan toleransi. Tetapi hari berikutnya kami akan selalu memberikan sanksi untuk siswa yang terlambat. Ayo anak-anak perkenalkan diri dan ucapkan janji.” Tutur Pak Danu kepada siswa yang terlambat.

Mereka memperkenalkan nama satu persatu dan mengucapkan janji bahwa tidak akan terlambat lagi.

“Pak, ada yang terlambat hari ini ga bisa tidur gara-gara mikirin cewe.” Cetus Dika.

Anak-anak bersorak karna tahu yang dituju adalah Alan satu-satunya anak kelas 10 A yang terlambat hari ini. Alan pun mengangkat kepalanya dan melirik mengancam kearah Dika juga dengan wajah sedikit malu yang tidak bisa disembunyikan.

“Tenang Anak-anak..” Pak Budi guru yang saat ini mengajar di kelas 10 A menenangkan murid-muridnya.

“Anak-anak mereka sudah mengucapkan janji. Jadi kita lihat besok wajah-wajah ini apakah masih terlambat. Baik, selamat belajar anak-anak.” Pak Danu mengucapkan salam dan meinggalkan kelas 10 A untuk berkeliling ke kelas lain diikuti siswa-siswi yang terlambat.

Tiba di kelas 10 B, Alan merasa sedikit senang karena ini adalah kelas Fiona, perempuan yang ia kagumi sejak hari pertama masuk sekolah yang belum ia ketahui namanya saat ini. Sama seperti di kelas sebelumnya setiap anak memperkenalkan diri di depan kelas dan mengucapkan janji untuk tidak terlambat lagi di depan kelas. Tiba giliran Alan berbicara.

“Saya Alan dari kelas 10 A. Saya berjanji tidak akan terlambat lagi besok dan seterusnya. Alan berbicara dengan lantang di depan kelas tanpa rasa malu dengan pandangan kearah Fiona sambil tersenyum.

Fiona yang merasa aneh karena Alan mengarahkan pandangan kepadanya langsung menunduk.

“Bagus, Alan.. kamu berbicara lantang semoga besok kamu tidak terlambat ya. Juga teman-teman yang lain.” Pak Danu sedikit meledek.

Anak-anak di kelas pun tertawa mendengar celoteh Pak Danu. Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa malu dan sedikit tersindir oleh Pak Danu dan melirik kearah Fiona yang masih menunduk namun juga tersenyum kecil. Kemudian mereka meninggalkan kelas 10 B dan lanjut berkeliling ke kelas lainnya sampai kelas 12.

Setelah selesai berkeliling Pak Danu membawa mereka ke ruang piket dan menasihati mereka yang terlambat.

“Kalian sudah terlambat dan kalian juga tertinggal jam pelajaran pertama dikelas. Untuk kelas 11 dan 12 kalian sudah tau bahwa ini hukuman untuk siswa yang terlambat. Sekolah ini mengajarkan kedisiplinan untuk kalian. Kalian harus menghargai waktu. Kalian ini disini sudah bayar cukup mahal. Apa kalian tidak sayang dengan uang yang dikeluarkan orangtua karna kalian terlambat, kalian meninggalkan jam pelajaran pertama. Coba kalian pikirkan. Sekolah ini tidak membuat kalian sengaja untuk meninggalkan pelajaran karna hukuman atas keterlambatan yang hanya beberapa menit saja. Tapi di sekolah ini mengajarkan bahwa betapa berharganya waktu yang kalian habiskan sia-sia karna ketidakdisiplinan kalian. Paham…” Pak Danu menjelaskan.

Setelah itu anak-anak yang terlambat dipersilahkan kembali untuk mengikuti pelajaran di kelas mereka masing-masing.

“Wih udah balik nih temen kita yang terlambat.” Dika meledek Alan yang baru saja masuk dan duduk disebelahnya.

“Rese lu ya. Bikin gua diledek anak sekelas.”

“Santai bro.. gimana tadi dikelas B.” Dika meledek.

Alan tersenyum sendiri. Ia membayangkan kejadian pada saat dikelas B tadi.

“Temen kita senyum-senyum sendiri.. Dika menoleh ke Ivan dan Abi yang ada dibelakangnya. Mereka tertawa kecil melihat tingkah Alan yang sedang jatuh cinta.

4th

Suara Bell tanda istirahat berbunyi. Anak-anak bersemangat membereskan buku-buku pelajarannya dan segera pergi keluar kelas. sementara anak-anak lain yang sudah berhamburan keluar kelas, Fiona masih menulis di buku catatannya apa yang ada di papan tulis.

“Fio nanti gue liat catetan lo ya. Gue laper banget nih. Daaaahh..” Riri salah satu teman dikelasnya terburu-buru keluar.

“Fi… gue juga ya..”

“Gue juga…”

“Fi nanti kita copy catetan lo aja ya.”

Teman-temannya langsung pergi keluar untuk segera beristirahat.

“Fio lo lama banget sih.. udah ga usah di catet.” Rina sedikit kesal menunggu Fiona mencatat.

“Nanggung Rin. Nanti kalo gue ngga nyatet gue belajar dari mana. Gue kan belum punya buku cetaknya. Lo sih enak udah beli. Lagian lebih paham baca catetan juga kan ini udah mencakup semuanya dan lebih singkat.”

“Kalo lo nyatet nanti yang laen keenakan main fotocopy aja.” Rina menyilangkan kedua tangannya dan terlihat kesal.

“Udah biasa Rin gue dulu waktu SMP juga gitu. Daripada gue yang repot nanti pas mau belajar ga ada catetan.”

“Lo beli buku deh mending cepetan.”

“Rin kalo lo ajak gue debat terus kapan gue selsai nyatetnya.” Fiona memperhatikan papan tulis sambil tersenyum lalu menoleh ke Rina.

“Gue ga sabar nih habis lo lama banget sih.”

“Ya udah kalo lo laper lo makan duluan aja ke ruang makan nanti gue nyusul Rin.”

“Gue nungguin lo karna gue gak nyaman sama yang lain. Lo nyebelin banget sih.. udah ah gue mau makan di mobil aja.” Rina langsung pergi keluar kelas dengan wajah kesal.

“Hufft… dia ngambek lagi.”

Fiona melanjutkan catatannya untuk menyelesaikannnya segera. 10 menit berlalu ia pun menyelesaikan catatannya dan segera merapihkan buku-bukunya lalu segera pergi keluar kelas. Saat ia berjalan dan menemui tangga turun terlihat sekelompok kaka kelas yang sedang duduk di anak tangga arah ke atas. Ketika melihat Fiona mereka berbisik-bisik dan saat Fiona menuruni Anak tangga salah satunya bernyanyi cukup nyaring sambil menyunggingkan senyumannya yang lebar dan terlihat senang sekali.

Kau gadisku yang manis coba lihat aku disini.

Disini ada aku yang cinta padamu.

Kau gadisku yang cantik coba lihat aku disini..

Disini ada aku yang sayang padamu..

Ketika menuruni beberapa anak tangga ia menyempatkan menoleh kearah mereka yang bernyanyi. Dan orang itu pun bernyanyi sambil tersenyum kearah Fiona dan diikuti temannya yang menyambungkan lagunya sambil kemudian tertawa. Fiona yang merasa aneh segera mengalihkan pandangan dan menuruni anak tangga lebih cepat untuk menghindari mereka.

“Apa yang mereka lakukan, apa aku keliatan aneh banget sampe mereka meledekku seperti itu.” Dalam hatinya Fiona bergumam. Ia berjalan menuju parkiran sambil sedikit berpikir. Sesampainya di parkiran ia mencari mobil Rina dan segera menghampiri mobil Rina. Terlihat Supir Rina yang sedang duduk diluar dekat mobilnya.

“Neng, Non Rina ada di dalem lagi makan.”

“Oh oke pa makasih..” Fiona segera menuju ke pintu mobil dan membukanya.

“Rin gue minta maaf ya gue lama.” Fiona berkata sambil duduk dan lalu menutup pintu mobilnya.

“Oke gapapa. Nih makan. tadi sekalian gue minta beliin supir gue.” Rina menyodorkan sekotak mie rebus dengan telur ceplok yang terbungkus sterofoam ke Fiona.

“Thanks ya Rin.”

“Iya udah makan aja gue tau lo kan ga makan siang di ruang makan karna lo ga daftar juga kan.”

“Bukannya lo udah bayar Rin buat makan siang sekolah untuk satu semester? Lo ko beli lagi sih

“Rin sayang kan makan siangnya udah bayar jadi sia-sia uangnya.”

“Udah biarin aja. Gue anggap itu sedekah gue buat sekolah ini hahaha.”

Mereka pun melanjutkan makan siang mereka sambil mengobrol tentang hal-hal lainnya.

***

“Lan, lo nggak mau makanannya? Buat gua aja sini. Gua masih laper nih. Abi langsung menarik piring yang ada dihadapan Alan.

“Ah gua makan ga nafsu makan nih gara-gara lo. Ya udah makan aja gua mau telpon supir beliin gorengan.” Alan mengeluarkan HP dari sakunya.

“Lan gue juga dong mau..” Ivan dan Dika meminta berbarengan.

Lalu tiba-tiba Abi memukul paha Dika dan Ivan dengan cukup kencang.

“Lo ngapain sih bi.. gila nih sakit tau.” Ivan membalas memukul lengan Abi.

“Mantap pukulan lo panas banget ndut..” Dika meringis kesakitan sambil mengusap pahanya.

“Ga boleh ngomong berbarengan gitu. Pamali tau. Nanti lo jadi berjodoh. Gue baik kan.. mencegah kalian sampe berjodoh..”

“Ah elah lo dapet mitos dari mana..” Dika langsung menoyor kepala Abi yang masih asik menikmati makanannya.

“Ngaco banget sih lo…” tamba Ivan yang juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Dika.

“Berisik banget sih lo pada..Gua mau telpon nih.” Alan yang tadinya terlihat galau sedikit tersenyum dengan tingkah teman-temannya.

Setelah menelepon supirnya Alan pun mengajak teman-temannya untuk pergi ke parkiran untuk menunggu gorengan.

“Ayo kita ke parkiran ambil gorengan.”

“Ayo ndut.. udah abis tuh. Udah bersih. ayo..” Ivan menarik Abi.

Ivan dan Abi berjalan di depan sementara Dika dan Alan berjalan dibelakang. Sesampainya di parkiran mereka duduk dan menunggu di bangku di dekat area parkir dekat lobby sekolah.

“Lan cewek itu lan..” Dika menunjuk kearah Fiona yang baru keluar dari mobil bersama Rina.

Tak lama mobil Alan pun masuk gerbang sekolah dan parkir persis disebelah mobil Rina.

“Lan buru samperin basa-basi sana. Kesempatan tuh jangan malu-malu. Hampir dua minggu kita sekolah masa lo belum tau namanya. Cemen banget sih lo..” Dika memanas-manasi Alan.

Alan pun segera bangun dari tempat duduknya dan menuju ke mobilnya. Sesampainya di sebelah mobilnya Alan menyapa mereka berdua.

“Hai, kalian ngapain, habis keluar ya?”

“Mana mungkin keluar di jam segini mana boleh kalo ga ada surat izin.” Rina menjawab dengan nada sedikit ketus.

“Kuah Mie tumpah nih di Rok gue.” Rina menambahkan lagi sambil mengelap roknya dengan tissue.

Alan menjadi serba salah. Ia ingin berbasa-basi tetapi Rina mengomel ngomel. Dalam hatinya ia sedikit kesal. Lalu Alan tanpa membalas perkataan Rina ia langsung membuka pintu mobil mengambil gorengan yang dibelikan supirnya.

“Fio lo beresin barang-barang gue ya. Gue ke toilet mau cuci ini dulu. susul gue di toilet ya..” Rina langsung berlari menuju gedung sekolah tanpa menunggu jawaban Fiona.”

“Oke.” Fiona bergumam sendiri dan membereskan sisa makanan yang tumpah di mobil juga membereskan barang-barang Rina dari luar mobil dengan pintu yang dibuka.

“Boleh gue bantu.” Alan menghampiri Fiona lebih dekat.

“Ah ga usah ini udah beres ko.” Fiona menjawab sambil tersenyum kepada Alan.

“Gapapa lo udah selsai kan bersihinnya. Sini gua bantuin bawa buku-buku atau tasnya. Lo ga mungkin bawa sendiri seberat ini.” Alan langsung mengambil buku-buku pelajaran milik Rina yang cukup tebal itu dari tangan Fiona. Mereka pun berjalan bersama menuju gedung sekolah. Teman-teman alan yang sudah menunggu pun mengikuti Alan dari belakang.

“Oh ya, kita kan seangkatan tapi belum kenal. Gue Alan kelas 10A.” Alan memulai pembicaraan kembali.

“Fiona, dan temenku tadi Rina.” Fiona menjawab sambil tersenyum ke Alan.

“Oke kita sekarang udah kenal ya jadi kalo nanti ketemu jangan pura-pura nggak kenal ya.” Alan meledek. Fiona hanya tertawa kecil.

“Makasih udah bantu bawain.” Fiona mengatakan pada Alan sambil memasukkan buku-buku dan tasnya ke dalam loker.

“Oke..” Alan menjawab sambil tersenyum.

“Lan..” Dika, Ivan dan Abi memanggil dari kejauahan.

“Aku nyusul Rina ke toilet dulu ya.” Fiona pun pergi meninggalkna Alan dan segera menyusul Rina yang masih berada di toilet.

Alan dengan wajah yang sedikit kecewa lalu menoleh kearah teman-temannya dengan wajah mengancam.

“Sorry Lan, kita laper nih istirahat tinggal 10 menit lagi.” Dika mengeluh kepada Alan sambil memegang perutnya dengan wajah yang sedikit melas.

“Iya lan makanan kita dimakan si ndut kan..” Ivan juga dengan wajah memelasnya.

“Gua juga masih laper nih bro..” Abi sambil menepuk perutnya.

Seketika Ivan dan Dika menoleh kearah Abi yang berada diantara mereka berdua dengan wajah yang berubah menjadi sedikit menyeramkan.

“Udah ayo kita makan barenglah.” Alan menengahi tiga temannya.

“Lets go..” Abi bersemangat.

Mereka pun makan gorengan bersama di lorong kelas. Setelah kejadian tadi Alan merasa sangat senang. Akhirnya setelah hampir dua minggu ia mencari cara agar bisa kenal dengan Fiona tersampaikan tanpa harus mempermalukan diri bertanya kepada teman yang lain.

 

 

Oleh : Puspa

-2013-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *