Cerita / Cerita Rakyat Indonesia

Kisah Roro Jonggrang (Candi Prambanan) dan Dayang Sumbi (Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu)

Mungkin sudah banyak yang tahu Kisah Roro Jonggrang dan Sangkuriang dengan Gunung Tangkuban Perahu. Cerita Rakyat atau disebut juga Legenda ini sangat terkenal dikalangan masyarakat dan diceritakan turun temurun oleh nenek moyang kita. Legenda atau Cerita Rakyat seringkali dianggap sebagai “sejarah” kolektif (wikipedia). Karena cerita itu tidak tertulis sehingga cukup banyak berbagai versi dari cerita tersebut. Walaupun tersebar beberapa versi tetapi inti dari ceritanya adalah sama hanya terdapat bumbu-bumbu cerita yang ditambahkan saja. Mungkin setiap orang yang menceritakannya kembali sedikit lupa dengan cerita aslinya sehingga berimprovisasi sendiri dan banyaklah muncul cerita dari berbagai versi.

Seperti kita ketahui obyek wisata berkembang juga karena ada cerita dibaliknya (legenda). Beberapa cerita rakyat terkadang tidak dapat diterima oleh nalar kita tetapi hal tersebutlah yang membuat obyek wisata tersebut menarik bagi masyarakat. Selain karena ingin melihat langsung tempat legenda yang diceritakannya juga masyarakat ingin mengetahui langsung cerita jelasnya sambil membayangkan ketika melihat tempat legenda tersebut terjadi.

Melanjutkan mengenai Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi jika kalian mengetahui ceritanya terdapat kemiripan kisahnya. Saya akan sedikit mengulang cerita tersebut mungkin saja ada teman-teman yang sedikit lupa dengan ceritanya.

 

-Cerita Roro Jonggrang-

Roro Jonggrang yang kita ketahui adalah nama patung yang berada di kompleks Candi Prambanan. Konon Roro Jonggrang ini adalah Putri dari Prabu Baka yang merupakan Raja di Kerajaan Prambanan. Berdekatan dengan Prambanan terdapat kerajaan yang tak kalah besar yaitu Kerajaan Pengging. Kerajaan Pengging terkenal selalu ingin memperluas wilayah kekuasaannya. Kerajaan Pengging memiliki satu kesatria sakti yang bernama Bondowoso. Ia mempunyai senjata yang bernama bandung sehingga ia dikenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti Bandung Bondowoso juga mempunyai Bala Tentara Jin yang membantunya menyerang kerajaan lain dan memenuhi keinginan lainnya.

Suatu ketika Raja Pengging memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan untuk mengambil kekuasaannya. Esok harinya Bandung Bondowoso dan Bala Tentaranya pergi menyerang Kerajaan Prabu Baka. Karena tidak ada persiapan Prabu Bakapun kalah dan tewas terkena senjata. Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Lalu Raja Pengging mengamanatkan kepada Bandung Bondowoso untuk mengurus Kerajaan Prambanan beserta isinya. Suatu ketika Bandung Bondowoso melihat seorang gadis yang cantik jelita yaitu Roro Jonggrang. Tanpa Ragu Bandung Bondowoso langsung memanggil Roro Jonggrang dan langsung melamarnya. Roro Jonggrang sebenarnya membenci Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya yaitu Prabu Baka. Tetapi disisi lain ia juga takut untuk menolak lamaran tersebut. Ia pun mengajukan syarat kepada Bandung Bondowoso untuk menikahinya, Bandung Bondowoso harus membangun 1000 candi dan 2 buah sumur dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso langsung menyetujuinya karena ia memiliki bala tentara jin yang dapat membantunya menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan cepat.

Mulailah Bandung Bondowoso dan tentaranya mengerjakan syarat dari Roro Jonggrang tersebut. Benar saja dalam waktu beberapa jam pekerjaan candi dan sumur tersebut sudah hampir selesai. Roro Jonggrong yang memantau pekerjaan tersebut mulai resah. Ia memikirkan cara untuk menggagalkan pekerjaan tersebut. Lalu ia memanggil para dayang-dayangnya untuk membantunya membakar jerami, membunyikan lesung dan menebarkan bunga yang wangi semerbak. Setelah jerami dibakar tak lama langit terlihat kemerahan, lesungpun mulai dibunyikan dan wangi bungapun mulai tercium. Melihat langit memerah, terdengar bunyi lesung, dan tercium wangi bunga, bala tentara Bandung Bondowoso pergi meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Bandung Bondowoso merasa kesal ia berteriak memanggil tentaranya tetapi tidak satupun kembali. Lalu ia melanjutkan pekerjaan candi yang belum selesai tersebut sendirian, namun belum terselesaikan pekerjaan itu pagi sudah datang. Ia sangat kesal. Ia mengetahui bahwa Roro Jonggrang lah yang berusaha menggagalakan pekerjaan tersebut sehingga Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung di candi tersebut (disebut Candi Roro Jonggrang) yang terdapat di Kompleks Candi Prambanan.

 

-Cerita Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu-

Cerita Sangkuriang dimulai dengan adanya seekor babi hutan yang merupakan titisan dewi. Babi hutan yang kehausan itu meminum air yang tergenang di dekat pohon yang merupakan air seni Raja Sungging Perbangkara. Karena kesaktian Raja Sungging Perbangkara itu babi hutan yang meminum air seninya mengandung hingga melahirkan anak perempuan. Mengetahui hal tersebut Raja Sungging mencari anak perempuan yang dilahirkan babi hutan tersebut di hutan. Menemukan anak perempuan itu Raja Sungging Perbangkara menamainya Dayang Sumbi. Seiring berjalannya waktu Dayang Sumbi beranjak dewasa menjadi gadis yang cantik jelita. Banyak para Raja, Pangeran dan Bangsawan yang berusaha meminangnya namun Dayang Sumbi menolaknya. Ternyata para raja, pangeran dan bangsawan yang ditolaknya tersebut saling melakukan peperangan. Dayang Sumbi yang sedih melihat hal tersebut akhirnya meminta Raja Sungging Perbangkara untuk mengasingkannya. Raja mengizinkan Dayang Sumbi untuk mengasingkan diri dan menyuruhnya membawa si Tumang (Anjing istana yang berwarna hitam) untuk menjaganya. Si tumang merupakan titisan dewa yang dikutuk menjadi seekor anjing berwarna hitam dan dibuang ke bumi.

Mengisi kekosongan di tempat pengasingan, Dayang Sumbi menenun. Ketika itu peralatan tenunannya terjatuh dan ia malas untuk mengambilnya sehingga ia berkata dengan asal bahwa siapaun yang mau mengambilkan tenunannya yang terjatuh, jika laki-laki akan ia jadikan suami dan jika perempuan akan ia jadikan saudara. Tak disangka si Tumanglah yang mengambilkan tenunan tersebut. Menepati janji perkataannya, Dayang Sumbi menikahi si Tumang yang merupakan Titisan dewa yang dikutuk menjadi hewan (Anjing) yang dibuang ke bumi. Setelah menikah tak lama Dayang Sumbi mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang ia beri nama Sangkuriang. Waktu berlalu Sangkuriang tumbuh. Sangkuriang sangat suka berburu. Ia selalu ditemani si Tumang ketika berburu. Suatu ketika ia berburu Kijang untuk mengambil hati kijang atas kehendak ibunya yang ingin memakan hati kijang. Ketika menemukan seekor kijang dibalik semak belukar, Sangkuriang menyuruh Tumang untuk menangkap kijang itu tetapi entah pada hari itu Tumang tak menurutinya. Sangkuriang marah namun si Tumang tidak menghiraukannya. Sangkuriang tidak mengetahui bahwa si Tumang adalah ayahnya. Ia yang marah dan kesal membunuh si Tumang dan mengambil hatinya lalu diberikan kepada ibunya untuk dimasak. Dayang Sumbi tidak mengetahui bahwa itu adalah hati si Tumang Suaminya. Ketika mengetahui Sangkuriang membunuh si Tumang dan Hati yang diberikannya jmerupakan hati Tumang, Dayang Sumbi sangat marah kepada Sangkuriang dan memukul kepalanya dengan Gayung yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga kepala Sangkuriang terluka. Sangkuriang marah dan pergi meninggalkan ibunya. Ia pergi mengembara dan kembali ke hutan tempat ia dilahirkan setelah ia dewasa dan memiliki kesaktian karena telah berguru kepada orang-orang sakti saat pengembaraannya. Di hutan ia bertemu dengan Dayang Sumbi yang cantik karena diberikan dewa kecantikan abadi. Sangkuriang jatuh cinta begitu pun Dayang Sumbi yang tidak mengetahui itu adalah anaknya. Saat hampir saja menikah, ketika melihat bekas luka di kepala Sangkuriang, ia teringat akan anaknya yang dahulu pergi meninggalkannya. Dayang Sumbi sangat yakin bahwa pemuda itu adalah anaknya. Ia pun menjelaskan kepada sangkuriang bahwa ia adalah ibunya. Tetapi Sangkuriang tidak mendengarkan dan bersikukuh untuk menikahi Dayang Sumbi karena telah jatuh cinta padanya.

Keteguhan hati sangkuriang untuk menikahi Dayang Sumbi membuat Dayang Sumbi mengajukan syarat agar ia dapat menikahinya. Ia mengajukan permintaan agar Sangkuriang dapat membut danau dan sebuah perahu untuk berlayar setelah menikah dan diberikan dalam waktu semalam saja. Sangkuriang menyanggupi permintaan Dayang Sumbi, Ia meminta bantuan makhluk halus (jin) untuk membantunya mengerjakan syarat yang dibuat Dayang Sumbi. Benar Saja pekerjaan tersebut dilakukan dengan cepat dan hampir selesai. Dayang sumbi lalu mencari cara untuk menggagalkannnya dengan memaksa ayam jantan berkokok. Ketika berhasil ayam berkokok para makhluk halus tersebut pergi meninggalkan pekerjaan yang belum selesai tersebut. Sangkuriang yang mengetahui hal tersebut adalah ulah Dayang Sumbi, Ia pun marah dan tidak terima Sangkuriang lalu marah dan menendang perahu yang telah dibuatnya hingga terlempar jauh dan jatuh terperungkuk. Dalam sekejap berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Sangkuriang mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. Ketika Dayang Sumbi hampir terkejar oleh Sangkuriang di Gunung Putri, Dayang Sumbi berdoa dan memohon pertolongan. Ia akhirnya menjelma menjadi sekuntum bunga.

Ketika kita membaca kedua cerita tersebut terdapat kemiripan dari keduanya. Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi sama-sama merupakan putri raja yang cantik jelita dan memberikan syarat kepada lelaki yang ingin meminangnya untuk membangun atau membuatkan sesuatu yang mustahil dalam satu malam jika dikerjakan oleh seorang manusia. Mereka pula sama-sama merekayasa datangnya waktu pagi dan berusaha menggagalkan pernikahannya. Di akhir cerita baik Roro Jonggrang maupun Dayang Sumbi berubah menjadi sesuatu, Roro Jonggrang berubah menjadi patung dan Dayang Sumbi menjadi sekuntum bunga.

Membahas kedua cerita tersebut mungkin sedikit baper karena kedua laki-laki dalam cerita tersebut baik Bandung Bondowoso maupun Sangkuriang sama-sama memperjuangkan cintanya dengan menyanggupi syarat dari perempuannya yang sangat tidak mungkin dan berlebihan jika dilakukan oleh manusia biasa. Namun mereka berusaha untuk memenuhinya. Bahkan Bandung Bondowoso tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya yang tidak mungkin diselesaikannya setelah ditinggal bala tentaranya. Beruntunglah kaum laki-laki saat ini tidak ada wanita seperti Roro Jonggrang ataupun Dayang Sumbi yang meminta dibangunkan atau dibuatkan sesuatu yang sangatlah besar dan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu semalam. Hahaha…

Cerita ini mungkin terdapat sedikit bumbu-bumbu yang berbeda. Mungkin setiap orang memiliki versi berbeda namun pada intinya adalah sama dan ada pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap cerita rakyat (legenda) tersebut. Dari isi cerita mungkin klise dan terkadang tidak masuk akal sehat. Tetapi ini merupakan cerita rakyat yang juga merupakan bagian dari kebudayaan kita. Semoga kita dapat melestarikan cerita-cerita rakyat ini turun temurun dan tak lupa menjelaskan pesan yang dapat diambil dari berbagai cerita rakyat tersebut sehingga hanya mengambil hal yang baiknya dan meninggalkan hal buruknya. 🙂

 

Baca cerita lengkapnya:

Cerita Rakyat – Candi Roro Jonggrang

Cerita Rakyat – Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu

Comments

August 3, 2019 at 7:37 pm

Walaupun sampai sekarang masih tidak percaya dengan cerita2 rakyat karena sulit untuk diterima akal sehat, tapi tetap saja dari cerita rakyat itu apabila kita sandingkan dengan tempat yang menjadi asal muasal dari cerita tersebut bisa membuat kita mengangguk karena yaa relate juga 😀 😀

Thank you puspa.. jadi merefresh cerita rakyat yang tetap saja bisa dinikmati 🙂



August 5, 2019 at 7:48 am

Baca artikel ini nostalgia tentang cerita rakyat yang dulu jadi bacaan favorit waktu kecil. Termasuk kisah Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi. Walaupun terdapat beberapa versi. Oiya tulisannya cukup bagus, tapi ada pengulangan di satu paragraf. Mungkin bisa dicek lagi. Saran aja ya mba, kalau bisa masukin foto candi Prambanan dan Tangkuban Perahu, jadi lebih real aja. Hehehe.. Ditunggu legenda lainnya mba..



August 5, 2019 at 1:20 pm

Pas kecil sering dibacain cerita rakyat sama Mamah, jadi rindu. Pernah lihat di televisi juga cerita Roro Jongrang dan Dayang Sumbi ini, tapi baca artikel ini jadi mengingatkan kembali. Thanks, Kak Puspa. Ditunggu cerita rakyat lainnya



August 5, 2019 at 5:31 pm

Cerita Rakyat sebenarnya adalah hasil reativitas manusia pada zaman tersebut. Sayangnya, dengan revolusi teknologi, kreativitas manusia semakin menumpul. Sdh jarang dongeng baru lahir. 🙁



August 5, 2019 at 5:42 pm

“Roro jonggrang” juga sering jadi semacam sindiran untuk proyek2 yang waktunya sempit. Seperti tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal.. Proyek roro jonggrang…



Fanti
August 5, 2019 at 8:28 pm

Perempuan jaman sekarang cuma minta dikasih kepastian… gak kaya jaman dulu ya mba minta dibuatin candi…. 🙈



Tuty prihartiny
August 6, 2019 at 1:26 pm

Bagi saya cerita rakyat seperti membawa kearifan tersendiri yang tetap dapat dimaknai di berbagai era. Saya tak pernah bosan membaca cerita sangkuriang maupun roro jonggrang. Terutama tentang pembuktian keteguhan. Mungkin ada beberapa hal dari cerita tersebut yang tidak sejalan dengan philosophy saya, itu lain hal. Salut atuh kak Puspa menghadirkan kembali cerita rakyat untuk kami renungkan kembali.



August 6, 2019 at 1:45 pm

Dari kecil aku suka baca dongeng, apapun. Jadi kisah seperti ini selalu aku jadikan kenangan seh, kadang suka berimajinasi saat aku berada di lokasinya, membayangkan semua adegan yang pernah aku baca sebelumnya. Meski banyak yang mengatakan itu hanya cerita dongeng, tetap saja aku mempercayainya.

Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang adalah sosok wanita yang selalu aku suka meski sedikit sekali manusia jaman now yang kurang memahami kisah-kisah mereka.

Dengan adanya tulisan ini semoga bisa menghidupkan kembali kisah dongeng yang melegenda.

Wasalam,
Ratna



August 6, 2019 at 2:47 pm

kalau baca cerita2 tsb, ngeselin ya… hehehehe.. manja2 banget putrinya… kalau zaman skrg ada yg spt itu… duh…



August 6, 2019 at 2:50 pm

Enggak terasa udah lebih dari 30 tahun yang lalu saya membaca dan mendengar kedua legenda ini… kira2 anak2 zaman skrg masih mendapatkan kedua legenda ini atau enggak ya?



August 6, 2019 at 4:40 pm

Perempuan kini enggak perlu candi tapi segala yang pasti. Tanggal yang pasti, mau tinggal di mana nanti, makan apa esok hari, ada buat belanja itu ini…hihihi
Makanya harusnya para lelaki hari gini bersyukur yaa..enggak banyak yang dipinta perempuan 😀
Makasih sudah menuliskan 2 cerita favorit saya..



August 6, 2019 at 9:10 pm

Selalu Ada hikmah yg didapat dari kisah rakyat macem ini.



August 7, 2019 at 3:43 am

Ada persamaan lainnya dari kedua legenda Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi yaitu minta bantuan jin.

Kalo zaman sekarang, ada iklan rokok yang lucu karena tokoh Om Jin dengan kata-kata “Kuberi satu permintaan”.



August 7, 2019 at 8:37 am

Baca artikel ini berasa ke zaman kuliah. Dulu saya kuliah jurusan sastra Indonesia, ada mata kuliah folklore yang membahas cerita rakyat seperti dua legenda ini. Sebenarnya ada kisah yang sama lagi di Sulawesi dan Sumatra namun kondisinya lebih sesuai dengan keadaan di sana. Semoga cerita legenda2 seperti ini gak akan hilang, tergulis Kpop dan budaya luar lainnya.



August 7, 2019 at 3:35 pm

Kira-kira kalau aku minta dibuatin candi, 1 aja deh ga sah 1000. Dikasih ga yah?
Cerita ini selalu menarik buat saya. Karena memang dari dulu pengen ke Prambanan gegara kisah Roro Jonggrang.
Mamasyiih kakak sudah mengingatkan kembali cerita ini



August 7, 2019 at 9:22 pm

Cewe jaman sekarang ga minta dibikinin candi lagi sih ka, tapi cowonya mesti bangun “candi” dalam bentuk rumah, kendaraan, dan gelimangan harta lainnya baru si cewe mau dinikahin 😀 suka sekali artikel ini, feeling nostalgic.



August 7, 2019 at 10:55 pm

Kalau sekarang sudah dianggap cewek matre mungkin ya 😁

Cerita rakyat yang turun menurun seperti Rara Jongrang dan Dayang Sumbi membuat kita merasa memang itu kejadian yang sebenarnya. Walau akal kita merasa tidak mungkin tapi tetap ada rasa percaya pada cerita cerita tersebut.



August 8, 2019 at 7:05 am

Artikelnya jadi mnyegarkan ingatan kembali mengnai cerita rakyat yang menurut saya mustahil tapi benar adany setiap bangunan punya banyak cerita dibalik pembuatannya. Kalo zaman sekarang masih ad juga tuh kalo cewe menolak dukun bertindak hiiii serem



August 8, 2019 at 11:10 am

Baca tulisan kakak ngebuat aku jadi nostalgia ke jaman masih kecil saat guru cerita ttg roro jonggrang. Dulu sempat mikir “ahh masa iyaa sih ada kutuk2an kyk gitu”. Tapi skrg mikirnya wallahualam aja, apalagi bukti candinya masih ada sampai skrg



August 8, 2019 at 12:53 pm

wah wah, berasa nostalgia bacanya tuh ya. Dulu pas SD seneng banget baca yang begini. Wanita Indonesia tuh emang gitu ya, cantik2 pintar2. Nolak aja pake segala minta dibikinin 1000 candi 1 malam,



August 8, 2019 at 2:02 pm

sebelumnya mau bilang, terima kasih kak Puspa sudah mengembalikan semangatku untuk baca lagi cerita-cerita rakyat seperti roro jonggrang ini . selalu suka akutuh dengan cerita rakyat begini, meski gak tau ini cerita nyata atau hanya sekedar cerita dari masa lampau saja. tapi keponkan aku juga suka dengan buku cerita rakyat begini, apalagi yang ada gambar nya sekalian jadi imajinasi langsung berjalan saat membacanya.



August 8, 2019 at 2:12 pm

Aku rindu baca kisah cerita rakyat, dulu jaman SD punya bukunya sampe dibaca berulang-ulang.
Wah ditunggu cerita rakyat berikutnya Kak.



August 8, 2019 at 11:32 pm

Terima kasih kak sudah mengingatkan cerita ini kembali ☺️

Tuh cowok-cowok dengerin ceritanya, jaman dulu cewek minta bangunin 1000 candi lho, jadi klo pasangan kamu minta bangunin 1 rumah jangan dibilang matre atuhlah 🙈



August 9, 2019 at 2:51 pm

Yaampun ternyata aku rindu baca cerita rakyat. Terimakasih kak sudah menulia cerita ini. Request cerita rakyat yang lain kak. Loh ngelunjak. Hahaha



August 12, 2019 at 4:06 am

Yang baru dengar…Dayang Sumbi berubah jadi Bunga apa ya kira2? Hihi….

Iyahh…meskipun udh sering dengar, tetep aja terhanyut dongeng di atas…

Anak kicik jaman sekarang masih didongengkan cerita macam ini Gak yaa??



August 12, 2019 at 4:38 pm

Bisa jadi derita seorang wanita yg memang cantik banyak menerima kutukan dari wanita lainnya heee



August 12, 2019 at 4:43 pm

Jadi inget cerita2 rakyat pas jaman sekolah dulu. Next ulas cerita rakyat brngkulu dong



August 15, 2019 at 9:01 pm

sebagai penggemar cerita rakyat, aku merasa apa yang ditulis ini benar adanya. kemiripan dari segi cerita dan endingnya. tapi moral storynya selalu dapat



August 20, 2019 at 4:40 pm

Seketika inget cerita2 rakyat waktu jaman sekolah. ngomong2 mana nih gambarnya, hehe



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *