Short Story / Stories

Ojek Online – Cerpen

Sinar matahari sudah mulai terik. Aku berdiri di depan pagar rumah dengan cemas dan sesekali melihat layar handphone ku lalu memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri ku.

“Aduh belum dapet juga nih. Udah jam segini lagi.”

“Gimana, udah dapet ojeknya?” Ibuku bertanya.

“Belum nih mah.” Jawabku dengan wajah yang bertambah kesal sambil memandangi layar handphone.

Tak lama kemudian, akhirnya aku mendapatkan seorang driver yang mengambil order-ku. Perasaanku sedikit lega setelah sekitar 15 menit aku mencari driver ojek yang mau mengambil order untuk mengantarku ke kantor. Entah kenapa hari ini sedikit lambat tidak seperti biasanya yang hanya membutuhkan waktu 10 menit dan driver sudah menjemputku.

Aku pun menunggu ojekku datang dengan perasaan tak sabar dan cemas karna takut terlambat. Tak lama setelah mendapatkan driver ojek, handphone ku berdering dengan nomor tak dikenal yang terpampang di layar handphone ku yang pastinya itu adalah si driver ojek. Aku pun segera mengangkat telepon darinya.

“Selamat pagi mba. Saya driver ojek yang mba order. Maaf mba posisi mba dimananya ya patokannya?”

“Saya di blok F ya pak. Pokonya patokannya dekat Balai RW. Saya sudah nunggu di depan rumah pak.”

“Oke mba ditunggu ya, saya segera meluncur kesana.”

Setelah menutup telepon, sedikit terbesit di benakku bahwa sepertinya dari suaranya tidak terdengar seperti suara bapak-bapak. Dua menit pun berlalu. Dari arah jam 9 berjarak sekitar 4 meter aku dan ibuku yang berada di depan pagar rumah melihat sebuah motor Nmax berwarna merah.

“Itu ojeknya kali.” Ibuku menebak.

“Bukan kayanya, masa itu tukang ojek.” Tuturku ragu.

Lalu motor itu pun melewati rumahku dan menjawab keraguan kami bahwa dia bukanlah si driver ojek yang kutunggu. Tetapi kulihat dia berhenti tepat di depan Balai RW dan mengeluarkan Handphone nya. Lalu Handphone ku pun berdering. Aku pun segera mengangkat telepon yang kulihat di layar adalah nomor yang sama dengan driver ojek yang meneleponku sebelumnya.

“Halo mba, saya sudah di depan Balai RW. Mba posisinya dimananya ya?”

“Mas nya yang pake motor warna merah ya?”

“Iya betul mba.”

“Saya di belakang mas nya nih. Saya liat mas nya ko.”

Telepon pun ditutup. Driver ojek itu menoleh kebelakang dan melihat ke arahku yang berdiri dan langsung memutarbalikkan motornya untuk menghampiriku yang sedang menunggu di depan gerbang.

Setelah melihatnya dari dekat aku semakin tidak percaya karna penampilannya yang begitu rapih dan tidak terlihat seperti tukang ojek. Ia menggunakan jaket hitam tanpa lengan yang memperlihatkan lengan kemeja panjang berwarna hitam dengan lengan yang tergulung dua lipat memperlihatkan jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan mengejutkanku karena sangat bagus dan keren untuk penampilan seorang tukang ojek.

Driver ojek itu menurunkan maskernya dan memberikan helm kepadaku.

“Maaf ya mba lama, soalnya tadi sambil nyari-nyari alamatnya baru pertama kali ke komplek sini.”

“Iya nggapapa.” Jawabku namun dengan hati cemas karna takut terlambat untuk sampai di  kantor.

Aku mengambil helm yang diberikannya. Tak sengaja aku melihat ke wajahnya dengan masker yang masih menempel di lehernya dan helm yang belum ia pakai kembali karna ia lepas saat meneleponku tadi. Aku terkejut melihatnya karna sepertinya umurnya tidak terpaut jauh dengan umurku. Ia memakai kacamata dan wajahnya sangat tampan untuk menjadi seorang tukang ojek.

Saat aku hendak pamit dengan ibuku, aku melihat ibuku justru terpesona dengan wajah si driver ojek itu.

“Mas, tadi darimana emangnya?” Tanya ibuku pada si driver ojek itu.

“Dari belakang sana bu. Kebetulan tadi habis sarapan cek hp ternyata orderannya searah sama kantor. Jadi saya ambil sekalian berangkat ke kantor.”

“Oh jadi mas-nya kerja kantoran juga.. pantes rapi banget.”

Sepertinya ibuku semakin terpesona dengan si tukang ojek itu. Aku pun segera berpamitan sebelum semakin terlambat karna ibuku yang terus mengajak ngobrol si tukang ojek.

“Hati-hati ya, mas naik motornya.” Ibuku menitip pesan padanya.

“Oh iya ibu pasti. Mari bu..”

Ia berpamitan pada ibuku dan kami pun segera berangkat. Selama di jalan kami saling diam, tidak berkata apapun karna tidak ada topik yang dapat dibahas. Terpikir olehku, sepertinya aneh jika tidak berbasa-basi. Akhirnya aku pun mengawali pembicaraan dengannya.

“Mas udah berapa lama jadi ojek online ini.” Tanyaku berbasa-basi.

“Baru mba, belum ada sebulan.  Ya iseng-iseng aja sih. Ngambilnya juga yang searah pulang sama pergi.” Jawabnya memberikan penjelasan yang cukup panjang.

“Oh jadi mas-nya ini kerja kantoran juga. Memang kantornya di mana?”

“Sebelum kantor mba. Deket ko. Nanti saya kasih tau kalo lewat.”

Sepanjang jalan kami terus mengobrol aku juga sempat menanyakan umurnya saat ini. Dan ternyata umurnya hanya terpaut setahun di atasku. Dan ia juga sama sepertiku yang merupakan fresh graduate dan baru pertama kali bekerja.

Tak terasa kami mengobrol dan akhirnya hampir tiba di kantor tempat ku bekerja. Ia sempat menunjukkan kantornya yang tadi kami lewati. Setelah sampai aku pun turun dan berterima kasih kepadanya. Entah kenapa aku seperti sedih saat sampai di kantor. aku merasa senang dengan si driver ojek itu. Aku bertanya-tanya dalam hatiku apakah karna dia tampan sehingga aku begitu kecewanya karna rasanya tidak mungkin untuk bertemu kembali. Mungkin saja bertemu kembali. Namun kemungkinan itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Begitu banyak driver ojek online dan tidak mungkin selalu mendapatkan dia. Tetapi sudahlah ini kan hanya skenario Tuhan untuk menghiburku sesaat dari kesibukan bekerja.

Keesokan harinya, seperti biasanya aku order ojek online untuk pergi ke kantor. tak lama berbunyi notifikasi handphone. Aku pun langsung mengeceknya dan terkejut dengan nama driver yang terpampang. Aku mendapat driver ganteng favorit ibuku. Ada rasa senang dalam hatiku karena aku dapat bertemu dengan dia kembali. Mungkin ini takdir. Aku pun menjadi sedikit lebay. Ah sudahlah, aku harus segera bersiap. Handhone ku berdering. Driver ojek itu meneleponku.

“Pagi Mba.. saya ojek yang mba order. Ini yang rumah kemarin deket Balai RW ya? Ditunggu ya mba saya segera meluncur.”

Tanpa berbasa-basi setelah aku menjawab iya, driver ojek itu menyudahi percakapan di telepon dan segera menjemputku. Hanya butuh waktu 5 minat dan ia pun sudah tiba di depan rumahku. Kami pun berangkat. Sepanjang perjalanan kami terus mengbrol tanpa kehabisan topik. Mungkin kami cocok. Kataku dalam hati. Lalu ada yang menjawab dalam hatiku, ah.. aku saja yang terlalu geer.. Sesampai dikantor tak lupa aku mengucapkan terima kasih pada driver itu. Dengan hati yang senang aku memasuki gedung kantor berharap esok bertemu dia kembali. Sepertinya aku sudah gila. Aku bergumam. Aku menyukai driver ojek yang baru kutemui dua kali. Mungkin karna dia ganteng. Tak apalah menghibur diri, kataku dalam hati. Tiga minggu berlalu. Dalam waktu 3 minggu itu aku diantar tukang ojek kesukaanku selama 8 hari walaupun tak berturut-turut. Senang sekali rasanya. Tetapi sedikit sedih karna sudah lewat 4 hari aku tak bertemu denganya. Sudahlah mungkin sampai disini..

Haaahhh…

Aku bersuara lalu mengaruk kepala. Aku menjadi semakin lebay gumamku dalam hati.

Hari-hari berlalu. Tak terasa sudah 3 bulan sejak aku betemu dengannya terakhir kali. Mungkin dia sudah tidak menjadi driver ojek online, pikirku. Aku melamun sepanjang peralanan menuju kantor. Di kantor pun aku hanya melamun saja. Rasanya seperti kehilangan sesuatu. Kembali pikiran lebay-ku muncul. Lalu aku mngetuk-ngetuk kepalaku dengan tangan.

“Des lo kenapa sih bengong terus mukul kepala.” Salah satu temanku di kantor menegurku.

“Ada pikiran lebay muncul. Diketuk supaya sadar.” Jawabku

“Ada-ada aja lo. Eh ntar siang ikut gue ya makan diluar.gue mau kenalin lo sama temen gue. Lo kelamaan jomblo makanya jadi lebay deh pagi-pagi gini.”

“Siapa bel?” Tanyaku pada Bella.

“Ya lo gak kenal lah kan baru mau dikenalin.” Bella meledek.

Lalu aku mengiyakan saja perkataan Bella karena aku sedang malas berpikir.

Siangnya aku ikut bersama Bella untuk makan siang dengan temannya. Aku terkejut dengan teman yang akan dikenalkannya denganku. Rasa malu bercampur senang karna bertemu kembali. Ternyata teman Bella adalah driver ojek ganteng yang sering mengantarku.

“Jadi gini gue ceritain tentang lo dan temen gue ini tertarik pengen kenal sama lo Des. Gue ceritain lebay lo gimana ketika bertemu tukang ojek ganteng yang lo suka dan semuanya. Gue kasih liat foto lo dan dia pengen ketemu dan gue pertemukan kalian disini. Selesai penjelasan gue.” Bella menjelaskan panjang lebar.

Penjelasan Bella membuatku terkejut karena dia menceritakan betapa terpesonanya aku dengan seorang driver ojek ganteng yang tak lain adalah teman Bella itu. Aku pun tersenyum malu ketika ia menatapku sambil tersenyum. Inilah pertemuan kembali kami yang tak disangka-sangka. Mungkin jodoh.. pikiran lebay-ku muncul kembali. Aku pun tersenyum sendiri.

 

Oleh: Puspa

14/Sept/2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *