Kisah Teladan / Stories

PERANG BADAR – Pertempuran Dahsyat dalam Sejarah Islam (Part 1)

Source: Google

Kaum Muhajirin dan Makkah belum menetap dengan nyaman di Madinah. Sebagian besar mukmin yang hijrah ke Makkah belum memiliki sumber penghidupan yang memadai. Mereka kebanyakan bekerja membantu penolong mereka yaitu Kaum Anshar yang telah dipersaudarakan oleh mereka Kaum Muhajirin.  Sementara itu Kaum Quraisy tidak pernah rela dan membiarkan Kaum Muslim hidup nyaman bahagia di Madinah.

Demi meningkatkan stabilitas ekonomi Kaum Muhajirin di Madinah Rasulullah memerintahkan para sahabat Muhajirin mencegat Kafillah Dagang Quraisy. Cara itu dilakukan untuk merebut kembali harta Kaum Muhajirin yang ditinggalkan di Makkah lalu dirampas oleh Kaum Quraisy; juga untuk mempersempit jalur perdagangan Quraisy sehingga kekuatan ekonomi mereka melemah.

Rasulullah SAW mendengar kabar bahwa Kafilah Dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan tengah bergerak pulang dari Syam membawa barang dagangan Quraisy. Kafilah itu selamat dari sergapan Kaum Muslimin ketika mereka menempuh perjalanan dari Makkah ke Syam. Kini kafillah itu menempuh perjalanan pulang dan Rasulullah SAW tidak mau jika mereka kembali lolos. Rasulullah SAW mengajak Kaum Muslim untuk bersiap mencegat mereka. Sepuluh hari sebelum kepergian ke Badar, Rasulullah SAW telah mengutus Thalhah ibn Ubaidillah & Sa’id ibn Zaid ibn Amr ibn Nafil untuk memata-matai Kafillah Abu Sufyan.

Source: Buku Perang Badar (Abdul Hamid Jaudah al-Sahhar); Penerbit Qalam

Suatu ketika Kafilah dagang tiba di Syam, seorang laki-laki dari Jadzam menyampaikan kabar kepada mereka bahwa Muhammad hendak mencegat mereka saat pulang dari Syam menuju Makkah. Mendengar hal itu Abu Sufyan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia pun mengirim mata-mata untuk mengawasi pergerakan Muhammad. Ia tidak mau kafilah dagangnya dicegat dan harta dagangnya direbut pasukan Muhammad. Setibanya di Zarqa dalam perjalanan menuju Makkah, mereka bertemu seseorang yang berkata bahwa Muhammad dan pasukannya yang sangat banyak dengan persenjataan yang lengkap hendak mencegatnya. Abu Sufyan mengumpulkan orang-orangnya dan merundingkan langkah-langkah yang harus diambil. Mereka memutuskan untuk mengutus Dhamdham ibn Amr, seorang pengawal yang disewa oleh Abu Sufyan ketika kafilah Quraisy menuju Syam.

Dikisahkan bahwa tiga malam sebelum kedatangan Dhamdham di Makkah, Atikah binti Abdul Muthalib memimpikan kejadian yang aneh dan mengejutkan. Ia bermimpi melihat seorang laki-laki menunggang unta. Laki-laki itu berhenti di al-athbah dan berteriak keras “Hai para pengkhianat, pergilah dan sambut kebinasaan kalian dalam tiga hari.” Kemudian laki-laki itu memasuki masjid dan orang-orang mengikutinya. Ketika untanya telah berdiri tegak di atas gunung Qubais, laki-laki itu meneriakkan kalimat yang sama. Lalu ia mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya dari atas Abu Qubais. Batu itu jatuh kebawah dan hancur berkepin-keping dan pecahannya terlontar ke semua penjuru hingga taka da satu rumah pun yang tidak terkena pecahannya. Atikah menceritakan kepada saudaranya dan untuk merahasiakannya namun akhirnya tetap tersebar dan terdengar oleh warga Makkah. Kabar itu terdengar sampai pada Abu Jahal yng merupakan tokoh Quraisy yang paling sengit memusuhi Rasulullah SAW. Mendengar itu Abu Jahal mengolok-olok Atikah.

Hari ketiga setalah mimpi Atikah, tiba-tiba Dhamdham ibn Amr al-Ghifari berteriak dari atas bukit. Sebelum tiba di Makkah ia telah memotong kedua telinga dan hidung untanya, membalikkan pelananya, mengoyak pakaiannya sendiri, lalu ia turun dari tunggangannya dan berlari memasuki Makkah. Sambil berlari ia berteriak dan menyeru kepada orang Quraisy untuk melidungi kafilah dagangnya karena harta benda yang dititipkan kepada Abu Sufyan hendak dirampas Muhammad dan para pengikutnya. Darah orang Quraisy bergolak dibakar amarah. Sebelumnya ia mengolok-olok Atikah karena mimpinya namun tepat tiga hari seolah mimpi Atikah akan menjadi kenyataan.  Kepanikan dan ketakutan melanda penduduk Makkah. Mereka tidak langsung menyiapkan diri utnuk pergi mempertahankan harta mereka karena ketakutan. Namun kedengkian hati para pemuka Quraisy, seperti Abu Jahal, Uqbah ibn Abi Muith dan Al Nadhr ibn Harits kepada Nabi Muhammad SAW mendorong mereka untuk menghasut penduduk Makkah untuk berkumpul dan membentuk pasukan. Akhirnya Pasukan Quraisy mempersiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan perang. Sebenarnya banyak orang Quraisy yang tidak mau pergi karena ragu dan takut tetapi terpaksa pergi dengan berat hati karena takut diolok-olok dan dikecam oleh banyak orang yang berkumpul.

Diantara pasukan Quraisy itu ada seorang laki-laki dari Bani Abdul Muthalib ibn Abi Manaf yang bernama Jahm ibn al-Shalt yang beristirahat dan tertidur. Lalu tiba-tiba terbangun dengan terkejut dan bertanya kepada orang sekitarnya apakah mereka melihat seorang Persia yang berbicara kepadanya. Lalu semua menjawab tidak ada. Ia berkata dengan nafas tersengal dengan suara yang bergetar. Lalu ia bercerita bahwa ia bertemu seorang Persia dan berkata bahwa Abu Jahal akan terbunuh, juga Utbah dan Syaibah, Zam’ah, Abu al Bukhturi, Umayyah ibn Khalaf, dan Suhail ibn Amr akan ditawan. Kemudian ia melihat laki-laki Persia itu menebas leher untanya dan melepasakan unta itu ke tengah perkemahan pasukan. Dan seluruh kemah taka da yang terlewat terkena percikan darahnya. Kabar tentang mimpi itu tersebar ke seluruh pelosok  perkemahan Quraisy sehingga hampir semua Quraisy dilanda ketakutan. Sebelumnya mereka mengolok-olok mimpi Atikah dan kini ada mimpi lain yang menggetarkan hati mereka. Abu Jahal yang mendengar kabar dari mimpi itu pun sangat marah. Menurutnya akan lebih baik jika si penyebar kabar tersebut dihukum agar pasukan kembali tenang. Ia akan membuktikan besok siapa yang akan binasa.

~to be continue~…

 

 

Sumber buku: Perang Badar oleh Abdul Hamid Jaudah al-Sahhar (Penerbit: Qalam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *