Short Story / Stories

Untuknya yang Mewarnai Hujan

Aku melihat keluar jendela kelas langit sudah sangat gelap. Saat itu pukul 17.15 kelas baru selesai. Hujan masih deras, aku tak berani menerobos. Aku berteduh di Lorong terdekat menuju gerbang. Saat hujan hanya menyisakan gerimis aku bergegas membuka payung dan berjalan cepat menuju halte bus . Belum sampai di halte tujuanku, hujan kembali deras. Aku berlari sambil memegang payung dengan tas ransel punggung yang aku pakai di depan. Hampir sampai di halte, tiba-tiba seorang pemuda berseragam SMA putih abu-abu berlari dan tak sengaja menabrakku. Aku hampir terjatuh karena licin, namun aku masih bisa mengimbangi tubuhku. Sungguh beruntung aku tak terjatuh, hanya saja payungku terlepas dari genggamanku dan terjatuh di aspal. Aku basah terkena air hujan begitu juga dengan pemuda itu. Pemuda yang menabrakku meminta maaf dan mengambilkan payungku yang terjatuh lalu segera menarik tanganku dan berlari menuju halte yang sudah sangat dekat. Aku hanya diam saja dan mengikutinya. Sesampainya di halte ia melepaskan tangannya dariku lalu meminta maaf. Belum sempat aku mengatakan sepatah katapun, bus sudah tiba. Ia menaiki bus dari pintu belakang. Aku pun tersadar untuk segera menaiki bus. Aku bergegas dan naik dari pintu depan. Di dalam bus secara tak sadar aku memperhatikannya. Tersadar aku memperhatikannya, ia tiba-tiba menoleh kearahku. Aku grogi saat ia memergoki memperhatikannya. Aku salah tingkah dan langsung membuang pandanganku secara sembarang. Kebawah lalu keatas entah apa yang aku lihat. Sangat aneh menurutku dan pastinya juga menurutnya. Aku tak berani menoleh sepanjang perjalanan sampai aku tiba di tempat tujuan.

Sesampainya di rumah, ketika aku hendak mengeluarkan buku-buku yang basah, aku menemukan sebuah gelang anak laki-laki yang putus dan tersangkut di resleting tasku. Kuingat-ingat mungkin ini milik pemuda itu.  Aku tersenyum sendiri dan berharap akan bertemu kembali.

Hari beranjak, sepulang sekolah aku tak menemukan dirinya lagi di halte bus. Rasa kecewa dan sedih dalam hatiku karena mungkin tak akan bertemu dengannya lagi. Ini adalah hari terakhirku mengunjungi sekolah. Setelah ini aku akan melanjutkan studiku ke Semarang. Aku berjalan menuju halte. Mataku terbelalak ketika aku menemukan pemuda yang aku cari. Belum sampai aku di halte, bus datang. Ia menaiki bus tanpa diriku. Aku tertinggal dan belum sempat mengembalikan gelangnya. Bus itu melewati diriku aku menatapnya dari luar. Ia pun menatapku dari dalam bus yang sedang melaju. Inilah akhir pertemuanku denganya. Aku menyimpan kenangan hujan dalam gelangnya yang kugenggam.

source : google

 

Jika  waktu tak beranjak

Mungkin takdir tak menolak

Jika waktu tak berlalu cepat

Mungkin ada waktu tepat

Jika saja waktu tepat

Mungkin saja kisah kita tak akan telat

Untuknya yang mewarnai hujan, aku menunggu kenangan hujan kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *